🔥 Selamat datang di Aplikasi Populer — Jelajahi tren terbaru tentang betting-offers-today!
AJI Temukan 69 Jenis Konten Medsos di Indonesia Lebih Pro Rusia Soal Invasi Ukraina
Invasi Rusia di Ukraina telah berlangsung hampir setahun. Perang masih berlangsung dan belum ada tanda kapan akan berakhir.
Sejak Rusia menyerang Ukraina, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat regional, tetapi juga global. Di Indonesia, kecenderungan masyarakat lebih pro-Rusia, terlihat dari berbagai konten yang beredar di media sosial.
Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ika Ningtyas, yang juga terlibat dalam tim pemeriksa fakta, menemukan 69 jenis konten dengan narasi berbeda terkait invasi Rusia di Ukraina. Konten ini beredar di media sosial, khususnya di kalangan warganet Indonesia.
Ika mengatakan, dari 69 jenis konten ini, mereka mengelompokkan tujuh kategori narasi pro-Rusia yang beredar, seperti: kedekatan Rusia dan Indonesia, situasi Eropa atau Amerika Serikat (AS), situasi konflik, kondisi pemerintah Ukraina, kedekatan Rusia dengan Islam, peran Presiden Joko Widodo atau Indonesia, dan kondisi pengungsi dan korban.
Ika mencontohkan, banyak konten yang menyatakan bahwa Indonesia mendukung invasi Rusia di Ukraina. Selain itu, muncul narasi bahwa Rusia siap mengerahkan rudal atau senjata nuklir ke Eropa atau AS.
"Video-video lama yang tidak terkait dengan invasi tetapi diklaim sebagai bagian dari invasi Rusia ke Ukraina. Ada juga yang membahas kehebatan Rusia dan Ukraina selalu kalah," paparnya dalam seminar Misinformasi dan Disinformasi Seputar Invasi Rusia ke Ukraina di Jakarta Pusat, Rabu (8/2).
Selain itu, banyak konten disinformasi yang menyebut Putin masuk Islam dan akan menyerang Israel. Ika juga menemukan banyak video parodi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Menurutnya, hal ini sangat disayangkan karena seolah-olah dengan parodi tersebut, orang tidak perlu berempati pada korban perang.
Dia menambahkan, disinformasi yang beredar sangat masif dan mempengaruhi persepsi publik serta pemerintah di suatu negara. Masyarakat Indonesia kemudian menjadi lebih bersimpati kepada Rusia daripada Ukraina yang menjadi sasaran agresi.
Dari berbagai konten yang beredar, Ika mengatakan 90% formatnya berupa video panjang. Konten ini beredar di berbagai platform seperti YouTube, TikTok, Telegram, Facebook, dan Twitter.
Pihaknya juga mengidentifikasi tiga jenis akun penyebar disinformasi ini, yaitu akun baru tanpa identitas yang dibuat tak lama setelah invasi, akun lama yang fokus pada militer, dan akun warganet yang pro-Rusia.
Sementara itu, menurut Akademisi Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra, maraknya disinformasi itu salah satunya karena kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia tentang hubungan Rusia-Ukraina. Selain itu, pakar atau akademisi yang khusus mempelajari persoalan Rusia-Ukraina masih jarang di Indonesia.
Radityo mengatakan, saat awal invasi, beredar narasi yang menganalogikan perang Rusia-Ukraina seperti konflik suami istri.
"Analogi itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi selama sekian tahun. Itu bagian dari disinformasi. Penyebab perang tidak hanya satu aspek, tetapi banyak," jelasnya.
Dia juga mengkritisi media yang tidak memberi porsi pemberitaan yang cukup tinggi terhadap korban.
"Ini sangat jarang ditemui, menjelaskan dari sudut pandang korban," ujarnya.
Selain itu, dia juga menyinggung soal penggunaan terminologi oleh media. Ada media yang hanya menyebut konflik antara Rusia-Ukraina, bukan invasi, padahal jelas tindakan Rusia adalah agresi oleh satu pihak.
Dampak disinformasi terhadap Ukraina
Pakar komunikasi strategis dari Ukraina, Liubov Tsybulska, mengatakan dampaknya adalah banyak orang Ukraina yang terbunuh. Menurutnya, disinformasi ini adalah bagian dari propaganda Rusia.
"Implikasi misinformasi sangat terasa. Karena itulah media perlu memiliki tim pemeriksa fakta," pungkasnya.
Kasino
Olahraga
bet-butterfly-stayer-1200