🔥 Selamat datang di Aplikasi Populer — Jelajahi tren terbaru tentang spread-betting-account!
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud dan jenis alih kode dan campur kode bahasa pada video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan. Saya melakukan analisis ini disertai perbandingan dengan 4 jurnal ilmiah yang menjadi bahan kajian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data dengan teknik simak bebas libas cakap, dan teknik catat. Data diambil dari tayangan video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan. Hasil analisis data penelitian yang telah dikemukakan dalam pembahasan yang sebelumnya, dapat diperoleh simpulan bahwa Bentuk alih kode dan campur kode sering digunakan oleh Iqbaal Ramadhan dalam video tersebut. Iqbaal Ramadhan sering melakukan peralihan bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa asing dan bahasa daerah begitu juga sebaliknya. Bentuk alih kode yang ditemukan peneliti di lapangan, yaitu bentuk alih kode intern yang mana terjadi, peralihan dari bahasa Indonesia, kebahasa daerah atau sebaliknya, sedangkan campur kode yang terjadi, yaitu percampuran atau penyisipan kata-kata bahasa daerah kedalam percakapan bahasa Indonesia, baik disengaja atau pun tidak disengaja. Bentuk campur kode yang didapatkan oleh peneliti, yaitu berupa bentuk campur kode kedalam pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing dan bahasa daerah (Tae). Hal ini terjadi karena kebiasaan Iqbaal Ramadhan menggunakan multilingual bahasa, sehingga tejadinya alih kode dan campur kode dalam percakapan di lingkungan sekitar. Kata-kata kunci: Alih kode, campur kode, tayangan video YouTube.
PENDAHULUAN
Menurut Kridalaksana dan Djoko Kentjono (dalam Chaer, 2014:32) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi antar manusia. Bahasa sebagai alat perantara antar anggota masyarakat dalam satu kelompok dan alat interaksi secara individu maupun kelompok. Dalam melakukan komunikasi, penutur akan menggunakan tingkat ragam bahasa yang berbeda sesuai dengan keperluan atau situasi yang terjadi.
Kunjana (dalam Diyah Atiek Mustikawati, 2015:25) alih kode adalah istilah umum untuk menyebutkan pergantian atau peralihan pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa, atau bahkan beberapa gaya dari satu ragam. Dia juga menyebut apa yang disebut alih kode intern, yakni yang terjadi antar bahasa daerah dalam suatu bahasa nasional, antradialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam suatu dialek. Adapun yang dimaksud dengan alih kode eksternal adalah peralihan bahasa yang terjadi antara bahasa dasar dengan bahasa asing. Sedangkan Menurut Myres dan Scotton (dalam Munandar, 2018:9) alih kode juga bisa dikatakan sebagai peralihan kode yang digunakan penutur, misalnya penutur menggunakan kode A dengan bahasa Indonesia kemudian berpindah ke kode B dengan bahasa Belanda, hal ini lah yang bisa disebut dengan alih kode.
Menurut Saddhono (dalam Rulyandi dkk, 2014:30) menyatakan bahwa campur kode adalah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Dalam hal ini penutur menyelipkan unsur-unsur bahasa lain ketika sedang memakai bahasa tertentu. Sedangkan menurut Nababan (dalam Munandar, 2018:10) mengatakan bahwa campur kode merupakan suatu keadaaan dimana ketika manusia berbicara dan didapati mencampur beberapa bahasa dalam suatu interaksi atau komunikasi dan tanpa ada peralihan atau menyesuaikan situasi.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa campur kode adalah penyisipan atau penggunaan unsur bahasa lain baik itu bahasa Indonesia atau bahasa asing antara penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi.
Faktor penyebab campur kode:
- Identifikasi peranan (ingin menjelaskan sesuatu/maksud tertentu)
- Identifikasi ragam (karena situasi/yang ditentukan oleh bahasa dimana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan dia dalam hierarki status sosialnya)
- Keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan (ingin menjalin keakraban penutur dan lawan tutur/menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain dan sikap serta hubungan orang lain terhadapnya).
Penelitian sejenis dengan ini juga pernah dilakukan oleh Wardani dan Sariah (2021). Dalam penelitian ini membahas jenis dan faktor alih kode dan campur kode dalam video Youtube Leonardo Edwin. Hasil penelitiannya adalah dalam dua video terdapat alih kode keluar dan campur kode kata. Faktor yang menjadi penyebab alih kode dan campur kode yaitu latar belakang lawan tutur, fungsi dan tujuan pembicaraan, serta konteks pembicaraan.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Suparman (2018). Dalam penelitian ini membahas tentang bentuk alih kode dan campur kode antara guru dan siswa-siswi SMA Negeri 3 Palopo. Hasil analisis data penelitian yang telah dikemukakan dapat diperoleh simpulan bahwa bentuk alih kode dan campur kode sering digunakan guru dan siswa-siswi dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Siswa dan guru sering melakukan peralihan bahasa dari bahasa Indonesia kebahasa daerah begitu juga sebaliknya. Hal ini terjadi karena kebiasaan guru dan siswa menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, sehingga tejadinya alih kode dan campur kode dalam percakapan di lingkungan sekolah.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Laela dan Mintowati (2021). Dalam penelitian ini membahas bentuk dan faktor alih kode dan campur kode dalam video Youtube Suhay Salim. Hasil penelitiannya adalah dalam video ditemukan bentuk alih kode eksternal dan campur kode eksternal. Faktor yang mempengaruhi terjadinya alih kode karena lawan tutur, penutur, pokok pembicaraan, dan gengsi. Faktor penyebab campur kode karena motif prestise dan kebutuhan mendesak.
Penelitian selanjutnya di lakukan oleh Nikfadatul Amriyah dan Heri Isnaini(2021) penelitian ini membahas bentuk dan penyebab terjadinya campur kode (CK) Sudjiwo Tedjo dalam acara dialog interaktif Indonesia Lawyers Club Episode Setahun Jokowi-Ma’ruf: Dari Pandemi sampai Demokrasi di TvOne. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini berisi tuturan yang mengandung campur kode pada subjek penelitian sehingga terjadinya campur kode dalam acara tersebut melalui pendekatan metodologi dan pendekatan teoritis.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana bentuk alih kode dan campur kode bahasa yang terdapat dalam video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan. Sehingga tujuan artikel ini pembaca dapat mengetahui bentuk alih kode dan campur kode bahasa apa yang telah terjadi pada video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan.
KAJIAN PUSTAKA
Karya ilmiah dengan judul " Menganalisis alih kode dan campur kode pada video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan " ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana kesalahan berbahasa dalam bentuk alih kode dan campur kode yang sering diucapkan oleh Iqbaal Ramadhan dalam video tersebut. Kesalahan berbahasa dalam bentuk alih kode dan campur kode dalam video tersebut ditinjau dari pendapat para ahli mengenai apa itu bahasa serta alih kode dan campur kode.
Bahasa
Bahasa merupakan komponen terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak akan bisa melanjutkan kelangsungan hidup mereka dengan baik dan teratur tanpa adanya bahasa. Mereka tidak bisa berinteraksi dengan mudah dan baik jika mereka tidak menguasai bahasa antara satu sama lain dan dengan tidak adanya kesinambungan tersebut mereka juga tidak dapat menangkap ekspresi kejiwaan maupun keinginan yang diutarakan oleh lawan komunikasinya. Hal ini juga yang menyebabkan adanya sekat dan kurang terkaitnya emosional satu sama lain. Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan penting dalam interaksi manusia. Bahasa dapat digunakan manusia untuk menyampaikan ide, gagasan, keinginan, perasaan dan pengalamannya kepada orang lain.
Noermanzah (2017: 2) menjelaskan bahwa Bahasa adalah suatu pesan yang biasanya disampaikan dalam bentuk ekspresi sebagai alat komunikasi dalam berbagai kegiatan tertentu. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh sekelompok masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan juga untuk mengidentifikasikan diri. Dilihat dari pengertian yang ada dalam kamus tersebut, dapat dipahami bahwa bahasa juga dapat berfungsi sebagai lambang bunyi sebagai mana not yang ada pada nada, akan tetapi fungsi atau manfaat yang diberikan sangatlah berbeda antara keduanya.
Devianty (2017) mengatakan bahwa dalam komunikasi bahasa pun dapat digunakan sesuai konteks dan kedudukan secara baik dan benar. Berbagai dimensi dan perspektif bahasa dalam berbagai situasi dan kondisi pada saat berkomunikasi ini, menjadikan kajian bahasa menjadi semakin dinamis dan semakin kompleks.
Alih kode
Suwandi (dalam Rulyandi dkk, 2014:29) menyatakan bahwa alih kode terdapat dalam sebuah percakapan ketika seorang pembicara menggunakan sebuah bahasa dan mitra bicaranya menjawab dengan bahasa lain. Nababan (dalam Diyah Atiek Mustikawati, 2015:24) Kajian mengenai alih kode dan campur kode tidak terlepas dari kajian terhadap bilingual, bilingualitas, dan bilingualism. Seseorang yang bilingual ialah seseorang yang memiliki kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih dengan orang lain. Kemampuan seseorang untuk memakai dua bahasa atau lebih dapat mencakup kemampuan reseptif (membaca, mendengar) atau pun kemampuan produktif (berbicara, menulis) atau pun keduanya.
Campur kode
Campur kode adalah penggunaan suatu ragam bahasa dalam ragam bahasa lain untuk memperluas atau memperbanyak gaya bahasanya. Menurut Nababan (dalam Aris, 2018:17) mengatakan bahwa, “Campur kode adalah keadaan berbahasa lain saat orang mencampur dua atau lebih bahasa dalam satu tindak bahasa atau wawancara tanpa ada maksud dalam situasi berbahasa yang menuntut pencampuran bahasa itu sendiri”. Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa campur kode adalah fenomena berbentuk penggunaan dua bahasa atau lebih oleh manusia dalam saat berinteraksi atau berkomunikasi.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif merupakan pendekatan untuk memahami suatu fenomena sosial dan perspektif individu yang diteliti. Tujuan pokoknya adalah menggambarkan, mempelajari, dan menjelaskan fenomena itu. Dalam pendekatan kualitatif terdapat beberapa metode, salah satunya adalah metode deskriptif. Penelitian yang dilakukan merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif di mana data yang diambil serta analisisnya berupa kata-kata yang disimpulkan dan bukan berbentuk angka. Lebih lanjut, penelitian berbentuk deskriptif akan menjelaskan fenomena, fakta dan kejadian- kejadian yang dialami oleh satu individu (Cresswell, 2014; Sugiyono, 2015).
Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data dengan teknik simak bebas libas cakap, dan teknik catat. Mahsun (2013: 92) menyatakan bahwa teknik simak digunakan untuk memperoleh data yang dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa. Dalam penelitian ini digunakan teknik simak bebas libat cakap dengan mengamati penggunaan bahasa informan. Dalam penelitian ini teknik catat dilakukan dalam proses menyimak percakapan video youtube sebagai teknik lanjutan teknik simak sebagaimana pendapat Mahsun (2013: 93).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada video Channel YouTube Detik yang berjudul Impersonation game with Iqbaal Ramadhan terdapat beberapa bentuk alih kode dan campur kode bahasa yang ditemukan melalui data sebagai berikut:
1. Temuan data berbentuk Alih kode
Ujaran 1: “Gue di tantang oleh detik hot untuk main impersonate game, lets go”
Dalam kajian sosiolinguistik kalimat ini termasuk kalimat alih kode, data di atas menunjukkan penutur menggunakan bahasa Inggris yaitu “impersonate game, lets go “ sebagai penjelas informasi pada ujarannya bahwa akan di adakan game menirukan teman-teman dekat dia.
Ujaran 2: “Jadi suatu hari kita lagi reading “
Dalam kajian sosiolinguistik termasuk ke dalam alih kode, data di atas terdapat penyisipan bahasa Inggris yaitu “reading” yang artinya membaca dalam bahasa Indonesia, dalam penjelasan di atas penutur memberikan informasi saat reading naskah film terbaru, dengan menyisipkan bahasa Inggris “reading “ pada pembicaraannya, maka kalimat yang sedang di perbincangkan mudah di pahami dan lebih singkat untuk di mengerti.
Ujaran 3: “So my dady which is go bad from Kuala lumpur dan kita bener-bener jalan-jalan dan seru banget “
Dalam kajian sosiolinguistik kalimat ini termasuk ke dalam bagian kalimat alih kode, data di atas terdapat pada awal ujaran, penutur menggunakan Bahasa Inggris, dan kemudian berubah menjadi Bahasa Indonesia. Lebih lanjut, perubahan yang terjadi dalam ujaran tersebut berbentuk kata dan juga klausa. penggunaan kosakata tersebut kemungkinan dikarenakan kebutuhan dari topik pembicaraan, yang mana ujaran ini dipakai untuk menunjukkan persetujuan dari sang penutur bahwa dia ingin memberi tahu tentang jalan - jalan yang serusedang dibicarakan.
Ujaran 4: “Jadi dia tuh suka bercanda nya plot twist gitu “
Dalam kajian sosiolinguistik termasuk ke dalam alih kode, data di atas terdapat penyisipan bahasa Inggris yaitu “plot twist” yang artinya kejutan dalam cerita dalam bahasa Indonesia, dalam penjelasan di atas penutur memberikan informasi saat ngobrol dengan rekannya Aldi Maldiny, dengan menyisipkan bahasa Inggris “plot twist“ pada pembicaraannya, maka kalimat yang sedang di perbincangkan mudah di pahami dan lebih singkat untuk di mengerti.
2. Temuan data bentuk campur kode
Ujaran 1: “Tapi panggil gua kak, drop shide cuy “
Dalam kajian linguistik kalimat ini termasuk kepada kalimat Campur kode karena terdapat penggunaan bahasa lebih dari dua atau multilingual bahasa, data di atas merupakan penyisipan unsur yang berwujud kata. Data tersebut merupakan campur kode di mana kata “drop shide” dari bahasa Inggris dan “cuy” sebagai panggilan teman dekat dicampurkan ke dalam kalimat bahasa Indonesia.
Ujaran 2: “Eh ini teh mau kemana eh aku mah cape banget eh “
Dalam kajian sosiolinguistik kalimat ini termasuk kepada bagian kalimat campur kode dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia, Data di atas merupakan penyisipan unsur yang berwujud kata. Data tersebut merupakan campur kode di mana kata “mau kemana”, “aku” dan “ cape banget “ dalam Bahasa Indonesia dicampurkan ke dalam kalimat Bahasa Sunda. Dalam data ini, penutur ingin menekankan kata “mau kemana”, “aku” dan “ cape banget “ sebagai kosakata Indonesia.
KESIMPULAN
Melalui penelitian ini, terdapat beberapa kesimpulan yang bisa ditarik. Pertama, ditemukan 6 data ujaran yang dibagi ke dalam bentuk alih kode maupun campur kode. Kedua, semua temuan ujaran tersebut terbagi dalam berbagai wujud mulai dari kata, frasa, dan juga klausa yang terjadi dalam peralihan atau penyisipan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris maupun ke dalam bahasa sunda, maupun sebaliknya. Terakhir, dapat disimpulkan bahwa terjadinya alih kode maupun campur kode dalam video-video di akun Youtube Detik Impersonation game with Iqbaal Ramadhan disebabkan oleh berbagai faktor seperti latar belakang penutur, lawan tutur dan konteks percakapan.
SARAN
Saran yang dapat diberikan adalah penggunaan alih kode campur kode dalam berbahasa harus lebih berhati-hati dalam berujar karena dapat menimbulkan kesalah pahaman.
Saran bagi penulis berikutnya untuk yang melanjutkan penelitian ini diharuskan dapat meneliti kembali tidak hanya menganalisis alih kode dan campur kode dalam berbahasa, tetapi bisa menganalisis mencakup lebih banyak.
DAFTAR PUSTAKA
- Cresswell, J. W. (2014). Research Design. Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th Ed).California: Sage Publication.
- Laela dan Mintowati (2021) Alih kode dan campur kode dalam konten video youtube Suhay Salim. Sapala Volume 8 Nomor 03 Tahun 2021 hlm. 41—55.
- Mahsun. 2013. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
- Mustikawati, Diyah Atiek. Alih Kode dan Campur Kode antara Penjual dan Pembeli (Analisis Pembelajaran Berbahasa Melalui Studi Sosiolinguistik). Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 3, No. 2, Juli 2015.
- Nikfadatul Amriyah dan Heri Isnaini (2021). Campur Kode Sudjiwo Tedjo dalam Dialog Interaktif Indonesia Lawyers Club TvOne Episode Setahun Jokowi-Maruf: Dari Pandemi Sampai Demokrasi. Volume 3, Nomor 1, Januari 2021 ISSN 2655-3031 (P), 2655-7851 (O) DOI: http://doi
- Noermanzah, N. (2017). Struktur Kalimat Tunggal Bahasa Sindang di Kota Lubuklinggau dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(1), 2. doi:10.21009/aksis.010101.
- Rulyandi, Rohmadi, Muhammad, dan Sulistyo, Edi Tri. Alih Kode dan Campur Kode dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Jurnal Pendidikan, Jilid 17, Nomor 1, Februari 2014, ISSN 1026-4109.
- Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta.
- Suparman (2018). Alih kode dan campur kode antara guru dan siswa SMA Negeri 3 Palopo. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra ISSN 2443-3667 PBSI FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo Volume 4 Nomor 1.
- Suryawin, P. C., Wijaya, M., & Isnaini, H. (2022). Tindak Tutur (Speech Act) dan Implikatur dalam Penggunaan Bahasa. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniiora dan Ilmu Pendidikan, Volume 1, Nomor 3, 29-36.
Kasino
Olahraga
israel-liga-bet-soccerway