LOMBOKTOTO

Google Play ID Studio
4.957
845 rb ulasan
323 jt+
Didownload
18+
Rating Konten
Resmi & Terverifikasi ⚡ Akses Instan 🔥 Promo Terbatas
💳 Pilih paket keuntungan Anda:
Rp 50.000 Rp 150.000 488% OFF
Tangkapan Layar Tangkapan Layar Tangkapan Layar Tangkapan Layar

Tentang aplikasi ini

arrow_forward

🔥 Selamat datang di LOMBOKTOTO — Jelajahi tren terbaru tentang barclays-bet!

KORELASI KEPRIBADIAN DOSEN DENGAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA DALAM PBM MATA KULIAH MEMBACA (READING) DI JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Abstrak: Makalah ini membahas hasil penelitian tentang deskripsi empiris yang berkaitan dengan tiga hal dalam mata kuliah Membaca (Reading) di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Padang. Tiga hal yang diteliti terdiri dari (1) kepribadian dosen dalam proses belajar mengajar program Reading berdasarkan sudut pandang mahasiswa; (2) motivasi belajar mahasiswa dalam proses pembelajaran membaca; dan (3) hubungan antara kepribadian dosen dan motivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran membaca. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa yang telah menempuh empat jenis mata kuliah Reading di Jurusan Bahasa Inggris UNP Padang pada tahun 2015. Mata kuliah tersebut adalah Reading I, Reading II, Reading III, dan Advanced Reading. Penelitian ini menggunakan total sampling. Ada tiga temuan dari penelitian ini. Pertama, kepribadian dosen dalam proses belajar mengajar mata kuliah Reading berdasarkan sudut pandang mahasiswa berada dalam kategori baik. Kedua, motivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran mata kuliah Reading juga termasuk dalam kategori baik. Terakhir, penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara kepribadian dosen dan motivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran mata kuliah Reading di Jurusan Bahasa Inggris UNP Padang.
Kata Kunci: motivasi mahasiswa, membaca (Reading), kepribadian dosen

PENDAHULUAN

Dosen mempunyai tugas dan tanggung jawab yang kompleks terhadap pencapaian tujuan pendidikan, dimana dosen tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, tetapi dosen juga dituntut untuk menampilkan kepribadian yang mampu menjadi teladan bagi mahasiswa. Dosen harus menjadi teladan bagi mahasiswa karena kepribadian dosen mempunyai pengaruh langsung dan kumulatif terhadap perilaku mahasiswa. Perilaku yang berpengaruh itu antara lain: kebiasaan belajar, disiplin, hasrat belajar dan motivasi belajar. Yang dimaksud dengan kepribadian di sini meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kepribadian yang ditampilkan oleh dosen dalam mengajar akan dilihat, diamati dan dinilai oleh mahasiswa sehingga timbul dari diri mahasiswa persepsi tentang kepribadian dosen.

Dosen juga harus mampu menciptakan situasi yang dapat menunjang perkembangan belajar mahasiswa, termasuk dalam menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa. Semua ini tidak terlepas dari bagaimana dosen menampilkan kemampuan kepribadiannya dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Inilah yang disebut peran dosen sebagai motivator oleh Makmun (1996:30). Hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Surya (1999:67) bahwa dosen yang berperan sebagai motivator akan membantu optimalisasi hasil belajar mahasiswa.

Perilaku dosen dalam mengajar secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa baik yang bersifat positif maupun negatif (Surya, 1996:65). Artinya, jika kepribadian yang ditampilkan dosen dalam proses mengajar sesuai dengan harapan mahasiswa, maka mahasiswa akan termotivasi untuk belajar dengan baik. Namun kenyataan menunjukkan seringkali kepribadian dosen dalam PBM kurang membangun motivasi belajar mahasiswa. Hal ini teramati dalam pengajaran Membaca (Reading) di Jurusan Bahasa Inggris FBS UNP Padang.

Fenomena yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa masih dijumpai mahasiswa yang menunjukkan perilaku sebagai berikut: (1) membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan tugas, dan tidak teratur dalam belajar, (2) menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti menentang, acuh tak acuh, berpura-pura, (3) lambat dalam melaksanakan tugas-tugas belajar dan, (4) menunjukkan gejala emosi yang kurang wajar, seperti pemurung, pemarah, dan mudah tersinggung, kurang gembira dalam situasi di kelas. Menurut Natawijaya (1988:22), keempat gejala yang ditunjukkan tersebut mengisyaratkan adanya kesulitan belajar pada diri mahasiswa. Kesulitan belajar tersebut diduga berkaitan erat dengan motivasi belajar yang dimilikinya.

Gardner (2009) melakukan penelitian terhadap motivasi berprestasi peserta didik dengan motivasi mengajar guru dan strategi yang diterapkan pengajar Bahasa Inggris di Spanyol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengajar yang memiliki motivasi yang tinggi dan menerapkan strategi yang tepat mampu meningkatkan motivasi belajar dan berprestasi peserta didik.

Mcleod (1995:226) mengartikan kepribadian (personaliti) sebagai sifat khas yang dimiliki seseorang. Selanjutnya dari tinjauan psikologi, Reber (1995:226) mengemukakan kepribadian pada prinsipnya adalah susunan atau kesatuan antara aspek perilaku mental (pikiran, perasaan dan sebagainya) dengan aspek perilaku behavioral (perbuatan nyata). Aspek-aspek ini berkaitan secara fungsional dalam diri seorang individu, sehingga membuatnya bertingkah laku secara khas dan tetap.

Kelly (1995) mengidentifikasikan kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakteristik kepribadian merupakan ciri-ciri perilaku psikofisik atau rohani-jasmani yang kompleks dari individu, sehingga tampak dalam tingkah lakunya yang khas. Demikian pula halnya dengan dosen sebagai individu, memiliki sejumlah ciri-ciri yang khas.

Hamalik (2000:34) menyatakan bahwa “kepribadian dosen mempunyai pengaruh langsung yang kumulatif terhadap hidup dan kebiasaan-kebiasaan belajar para mahasiswa.” Yang dimaksud dengan kepribadian di sini meliputi pengetahuan, keterampilan, ideal, sikap, dan juga persepsi yang dimiliki dosen tentang orang lain. Hamalik mengemukakan sejumlah karakteristik dosen yang disenangi oleh para mahasiswa adalah dosen-dosen yang (1) demokratis, (2) suka bekerja sama, (3) baik hati, (4) sabar, (5) adil, (6) konsisten, (7) bersifat terbuka, (8) suka menolong, (9) ramah tamah, (10) suka humor, (11) memiliki bermacam ragam minat, (12) menguasai bahan pelajaran, (13) fleksibel, (14) menaruh minat yang tinggi terhadap mahasiswa.

Wijaya (1994) mengemukakan pendapat bahwa “Keberhasilan seorang dosen dalam PBM harus didukung oleh kemampuan pribadinya.” Kemampuan pribadi dosen dalam PBM tersebut mencakup unsur berikut: (1) kemantapan dan integritas pribadi; (2) peka terhadap perubahan dan pembaharuan; (3) berfikir alternatif; (4) adil, jujur dan objektif; (5) berdisiplin dan melaksanakan tugas; (6) ulet dan tekun bekerja; (7) berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya; (8) simpatik dan menarik, luwes, bijaksana dan sederhana dalam bertindak; (9) bersikap terbuka; (10) kreatif; (11) berwibawa.

Syah (1995) mengemukakan dua karakter kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan dosen dalam menggeluti profesinya sebagai berikut: (1) fleksibilitas kognitif dosen. Fleksibilitas kognitif (keluwesan rasa cipta) merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Dosen yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan keterbukaan berpikir dan beradaptasi, memiliki resistensi (daya tahan) terhadap ketertutupan ranah cipta yang premature (terlalu dini) dalam pengamatan dan pengenalan, berpikir kritis. Dalam PBM, fleksibilitas kognitif dosen terdiri atas tiga dimensi, yakni: (a) dimensi karakteristik pribadi dosen; (b) dimensi sikap kognitif dosen terhadap mahasiswa; dan (c) dimensi sikap kognitif dosen terhadap materi pelajaran dan metode mengajar.

PBM merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Dalam PBM ada kegiatan yang integral (utuh terpadu) antara mahasiswa yang belajar dan dosen yang mengajar. Dalam kesatuan kegiatan ini terjadi interaksi resiprokal yakni hubungan antara dosen dengan para mahasiswa dalam suasana yang bersifat pengajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Usman (1989:1) yang menyatakan bahwa “PBM merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan dosen dan mahasiswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.” Mengajar, pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar mahasiswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong mahasiswa melakukan proses belajar (Sudjana, 2000:29).

Universitas menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sebagai realisasi tujuan pendidikan. Adapun penanggung jawab kegiatan PBM di dalam kelas adalah dosen, karena dosenlah yang langsung memberikan kemungkinan bagi mahasiswa agar terjadi proses belajar yang efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran dosen dalam PBM sangat penting. Selain itu, posisi dosen dalam PBM-pun tidak kalah pentingnya.

Claife (1995:253) menyatakan “posisi dosen sebagai pemegang hak otoritas atas cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan”. Sehubungan dengan hal itu, tujuan dan hasil yang harus dicapai dosen melalui PBM ialah membangkitkan kegiatan belajar mahasiswa. Dengan kegiatan mahasiswa diharapkan berhasil mengubah tingkah lakunya sendiri ke arah yang lebih maju dan positif.

Dosen dituntut memiliki kualitas yang sesuai dengan bidang tugas dan perannya. Tugas dan peran yang dimaksudkan adalah mencakup hal-hal seperti yang ditemukan oleh Gagne & Berliner (Makmun, 1990:19):

- Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang dilakukan dalam PBM (pre teaching problem).
- Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi memimpin, merangsang, menggerakkan dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. Ia bertindak sebagai orang sumber (sourceperson), konsultan. Pemimpin (leader) yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistic (kemanusiaan) selama proses berlangsung (during teaching problem).
- Penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgment) atas tingkat keberhasilan belajar mengajar tersebut berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produk (output).
Sardiman (1988:84) mengemukakan ada tiga fungsi motivasi, yaitu:

- Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
- Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberi arah kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
- Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Prayitno (1988) mengatakan bahwa fungsi dari motivasi dalam PBM adalah (1) menyediakan kondisi yang optimal bagi terjadinya belajar; (2) menguatkan semangat belajar mahasiswa; (3) menimbulkan atau menggugah minat mahasiswa agar mau belajar; (4) mengikat perhatian mahasiswa agar mau dan menemukan serta memilih jalan/tingkah laku yang sesuai untuk mendukung pencapaian tujuan belajar maupun tujuan hidup jangka panjang.

Hamalik (2000:175) menyatakan tiga fungsi motivasi yaitu sebagai pendorong, pengarah dan penggerak:

- Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
- Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.
- Sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Kuat lemahnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Aspek motivasi dalam keseluruhan PBM sangat penting, karena motivasi dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan terjadinya suatu perbuatan atau tindakan. Perbuatan belajar pada mahasiswa terjadi karena adanya motivasi untuk melakukan perbuatan belajar.

Mahasiswa dalam belajar hendaknya merasakan adanya kebutuhan psikologis yang normatif. Mahasiswa yang termotivasi dalam belajarnya dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku yang menyangkut minat, ketajaman, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan. Mahasiswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajarnya menampakkan keenganan, cepat bosan dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar.

Yusuf (1992:25) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan motivasi mahasiswa, dosen mempunyai peranan sebagai berikut:

- Menciptakan lingkungan belajar yang merangsang peserta didik untuk belajar.
- Memberi penguatan bagi tingkah laku yang menunjukkan motif.
- Menciptakan lingkungan kelas yang dapat mengembangkan keingintahuan dan kegemaran mahasiswa belajar.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka harus dilakukan suatu upaya agar mahasiswa memiliki motivasi belajar yang tinggi sehingga mahasiswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Dengan adanya perlakuan semacam itu dari dosen diharapkan mahasiswa mampu membangkitkan motivasi belajarnya dan tentunya hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya. Tentunya untuk mencapai prestasi belajar tersebut tidak akan lepas dari upaya yang dilakukan oleh dosen dalam memberikan motivasi atau dorongan kepada mahasiswa agar dapat meningkatkan motivasi belajarnya.

Hedge (2003) menyatakan bahwa semua komponen pengajaran Bahasa Inggris termasuk di Perguruan Tinggi mengarah kepada membaca yang terlihat dari tujuan pembelajaran berikut ini:

- Kemampuan untuk membaca beragam teks dalam bahasa Inggris. Ini merupakan tujuan jangka panjang yang diharapkan dosen agar mahasiswanya menjadi pembaca yang mandiri di luar kelas Bahasa Inggris.
- Kemampuan untuk membangun pengetahuan bahasa yang akan menunjang kemampuan membaca.
- Kemampuan mengadaptasi gaya membaca untuk keperluan membaca (seperti skimming dan scanning).
- Pengembangan pengetahuan dan kesadaran akan struktur teks tertulis bahasa Inggris.
- Berpikir kritis terhadap isi teks yang dipelajari.
Alyousef (2005:143) menyatakan bahwa sedikitnya terdapat komponen umum dari keterampilan dan pengetahuan membaca yaitu:

- Keterampilan mengenali apa yang dibaca secara otomatis.
- Pengetahuan mengenai kosakata dan struktur kalimat.
- Pengetahuan mengenai wacana.
- Latar belakang pengetahuan mengenai bahan bacaan.
- Strategi untuk mengevaluasi bahan bacaan.
- Pengetahuan metakognitif dan keterampilan memonitor.
Johan (2005) mengelompokkan keterampilan membaca dalam lima kelompok besar, yaitu (1) menemukan arti kata dalam konteks bacaan (deducing the meaning of words from contexts), (2) memahami bentuk dan arti frasa non-idiomatik (understanding the forms and meanings of non-idiomatic phrases), (3) memahami arti kalimat melalui struktur sintaksis (understanding sentence meaning through syntactical structures), (4) mengenal dan memahami struktur-struktur retorik (understanding and recognizing rhetorical structures), dan (5) keterampilan membaca kritis (critical reading skills). Kelima keterampilan membaca ini sepatutnya dimiliki oleh mahasiswa jurusan bahasa. Hal ini diperlukan agar mahasiswa mampu memahami bahan bacaan yang mereka baca. Tanpa motivasi belajar yang cukup, maka keterampilan ini tidak akan mampu terkuasai oleh mahasiswa.

Kegiatan membaca dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu intensive reading dan extensive reading (Harmer, 2006). Kegiatan intensive reading yaitu kegiatan membaca dengan arahan atau bimbingan dari pengajar. Sedangkan extensive reading adalah kegiatan membaca yang dilakukan di luar kelas dimana siswa memilih sendiri bahan bacaan yang diminatinya. Kegiatan membaca berhubungan dengan minat baca.

Minat baca adalah keinginan yang kuat disertai dengan usaha-usaha seseorang untuk membaca (Rahim, dalam Nur, 2012). Pertiwi (2012) menyebutkan bahwa minat baca adalah keinginan untuk memahami dan menguasai bahan bacaan untuk menambah kompetensi diri. Minat baca erat hubungannya dengan keinginan seseorang untuk membaca bahan bacaan yang disertai dengan kemauan dan dorongan yang kuat dan perasaan senang.

Hurlock dalam Pertiwi (2012) berpendapat bahwa minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai. Dengan kata lain minat baca berhubungan erat dengan motivasi membaca. Minat baca seseorang dengan orang lain tidaklah sama. Hal ini dikarenakan ada faktor-faktor tertentu yang memengaruhi minat baca tersebut.

Tarigan (2012) menyatakan ada dua faktor penting yang memengaruhi minat baca seseorang. Faktor pertama yaitu waktu sedangkan faktor kedua yaitu pemilihan bahan bacaan. Penjelasan lain tentang faktor yang memengaruhi minat baca disampaikan oleh Harris dan Sipay (1980). Menurut mereka, ada dua faktor yang memengaruhi minat baca seseorang, yaitu faktor personal dan institusional. Faktor personal datang dari dalam diri sendiri, diantaranya usia, jenis kelamin, kemampuan membaca, sikap, dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor yang berasal dari luar individu, contohnya ketersediaan buku (bahan bacaan), status sosial ekonomi, dan pengaruh orang tua, teman sebaya, dan guru. Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas, gaya belajar juga menjadi faktor lain yang memengaruhi minat baca.

METODE PENELITIAN

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukan pencatatan dan analisa data hasil penelitian secara eksak dan menganalisis datanya secara perhitungan statistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu studi yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung pada saat penelitian tanpa menghiraukan sebelum dan sesudahnya (Sudjana, 2000:52). Data yang diperoleh kemudian diolah, ditafsirkan dan disimpulkan.

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UNP yang telah mengambil kelas atau mata kuliah Reading I, Reading II, Reading III, dan Advanced Reading. Teknik pengambilan sample dilakukan dengan total sampling. Karakteristik responden yang menjadi sampel penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kelas | Jumlah Mahasiswa | Persentase
Reading I | 104 | 28,49%
Reading II | 107 | 29,32%
Reading III | 77 | 21,10%
Advance Reading | 77 | 21,10%
Total | 365 | 100,00%
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah teknik non-test dengan menggunakan instrument pengumpul data berupa angket yang mengungkap data tentang dua hal. Pertama, sifat (kepribadian dosen) dalam PBM yang diberikan kepada mahasiswa dalam hal ini karakteristik kepribadian dosen diukur melalui persepsi mahasiswa. Kedua, motivasi belajar mahasiswa.

Teknik analisis data digunakan statistika parametrik jika asumsi penelitian terpenuhi. Apabila asumsi tidak terpenuhi maka dilakukan statistika non parametrik dengan uji normalitas distribusi frekuensi dan uji linieritas regresi.

PEMBAHASAN

1. Kecenderungan Sifat (Kepribadian) Dosen dalam Proses Belajar Mengajar Mata Kuliah Reading yang Dirasakan oleh Mahasiswa

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Kepribadian Dosen Reading I, ditemukan bahwa variabel Kepribadian Dosen menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,78 dengan TCR 75,6%. Hal ini memperlihatkan bahwa kepribadian dosen Reading I secara keseluruhan menurut mahasiswa kelas Reading I berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Kepribadian Dosen Reading II, ditemukan bahwa variabel Kepribadian Dosen menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,91 dengan TCR 78,3%. Hal ini memperlihatkan bahwa kepribadian dosen Reading II secara keseluruhan menurut mahasiswa kelas Reading II berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Kepribadian Dosen Reading III, ditemukan bahwa variabel Kepribadian Dosen menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,92 dengan TCR 78,3%. Hal ini memperlihatkan bahwa kepribadian dosen Reading III secara keseluruhan menurut mahasiswa kelas Reading III berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Kepribadian Dosen Advance Reading, ditemukan bahwa variabel Kepribadian Dosen menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,46 dengan TCR 69,3%. Hal ini memperlihatkan bahwa kepribadian dosen Advance Reading secara keseluruhan menurut mahasiswa kelas Advance Reading berada pada kategori kurang baik.

3. Kecenderungan Motivasi Belajar Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar Mata Kuliah Reading

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi Mahasiswa Reading I, ditemukan bahwa variabel Motivasi mahasiswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,87 dengan TCR 77,4%. Hal ini memperlihatkan bahwa motivasi mahasiswa Reading I secara keseluruhan berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi Mahasiswa dalam Belajar Reading II, ditemukan bahwa variabel Motivasi mahasiswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,80 dengan TCR 76,0%. Hal ini memperlihatkan bahwa motivasi mahasiswa Reading II secara keseluruhan berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi Mahasiswa Reading III, ditemukan bahwa variabel Motivasi mahasiswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,61 dengan TCR 72,1%. Hal ini memperlihatkan bahwa motivasi mahasiswa Reading III secara keseluruhan berada pada kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi Mahasiswa dalam belajar Advance Reading, ditemukan bahwa variabel Motivasi mahasiswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,09 dengan TCR 61,8%. Hal ini memperlihatkan bahwa motivasi mahasiswa Advance Reading secara keseluruhan berada pada kategori kurang baik.

4. Hubungan Antara Sifat (Kepribadian Dosen) dengan Motivasi Belajar Mahasiswa dalam Proses Belajar Mengajar Mata Kuliah Reading

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Kepribadian Dosen dalam Mengajar Mata Kuliah Reading Secara Umum, ditemukan bahwa variabel Kepribadian Dosen menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,78 dengan TCR 75,6%. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan sifat (kepribadian) dosen dalam mengajar mata kuliah Reading (yang terdiri dari Reading I, Reading II, Reading III dan Advanced Reading) di Universitas Negeri Padang berada dalam kategori baik.

Berdasarkan Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi Mahasiswa dalam Belajar Mata Kuliah Reading Secara Umum, ditemukan bahwa variabel Motivasi mahasiswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,63 dengan TCR 72,6%. Motivasi mahasiswa dalam belajar mata kuliah Reading (yang terdiri dari Reading I, Reading II, Reading III dan Advanced Reading) di Universitas Negeri Padang juga berada dalam kategori baik.

Hasil uji regresi seperti menunjukkan nilai R Square 0,392. Artinya kontribusi variabel Kepribadian terhadap variabel Motivasi adalah 39,20%, sedangkan 60,80% ditentukan oleh faktor lain. Hasil uji Anova menunjukkan Nilai F hit 233,663 dengan Sig. 0,000 < 0,05. Artinya variabel Kepribadian dapat menjelaskan variabel Motivasi secara signifikan. Hasil uji koefisien menunjukkan Nilai Konstanta sebesar 8,340. Artinya, tanpa adanya pengaruh variabel Kepribadian, nilai skala variabel Motivasi sebesar 8,340. Hasil uji koefisien di atas juga menunjukkan bahwa terdapat koefisien regresi sebesar 0,493 dengan nilai t hitung 15,286 pada sig. 0,000 < 0,05. Artinya setiap peningkatan sebesar 1 satuan Kepribadian akan meningkatkan 0,493 satuan Motivasi, dengan model estimasi Y = 8,340 + 0,493 X.

Berdasarkan hasil uji regresi yang menunjukkan nilai R Square 0,392, dapat diketahui bahwa kontribusi variabel Kepribadian terhadap variabel Motivasi adalah 39,20%, sedangkan 60,80% ditentukan oleh faktor lain. Artinya, hubungan sifat (kepribadian) tidak kuat terhadap motivasi belajar mahasiswa dalam proses belajar mengajar mata kuliah Reading.

Secara umum, kepribadian yang dimiliki dosen mata kuliah Reading di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS UNP sesuai dengan kepribadian yang disarankan oleh Mahadi dan Jafari (2012:235) bagi pengajar bahasa, yaitu untuk memotivasi pelajar bahasa, ada beberapa tujuh hal penting yang perlu dimiliki dalam kepribadian pengajar bahasa.

Pertama, pengajar bahasa seharusnya mengajar dan menginstruksikan sesuai dengan tingkat masing-masing pelajar. Dalam arti bahwa, awalnya, guru harus mengidentifikasi dan menyadari penempatan masing-masing siswa. Kedua, pelajar bahasa tidak harus didekati atau disalahkan, karena tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, untuk membuat kesalahan dalam pengucapan, atau ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan dan sebagainya. Ketiga, pengajar harus mengidentifikasi, memahami, dan mengerti pembelajar bahasa'sosial, budaya, ekonomi, dan fitur sentimental dan latar belakang agar dapat membantu mereka dan sehingga pembelajar bahasa memiliki gambaran yang jelas dari diri mereka sendiri dan menghormati karakter mereka sendiri. Keempat, pengajar harus baik kepada pembelajar bahasa mereka dan mencintai mereka saat menjadi teman dengan mereka. Hal ini penting dan penting terutama di tingkat awal dan utama belajar bahwa pembelajar bahasa rentan, rentan, dan sensitif, dan mereka membutuhkan cinta dan kasih sayang dari guru mereka. Kelima, pengajar bahasa harus mengagumi, menghormati, dan menghargai perbedaan pembelajar bahasa dan mereka harus tidak pernah kontras pembelajar bahasa dengan satu sama lain. Keenam, pengajar bahasa perlu mempromosikan kewaspadaan pembelajar, pengetahuan, rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu di kelas bahasa serta berusaha untuk menegakkan dan melestarikan motivasi mereka. Ketujuh, pengajar bahasa harus mengingat bahwa belajar kedua atau bahasa asing berarti bahwa peserta didik juga harus mengeksploitasi dan memanfaatkan kemahiran sosial dan bukan hanya belajar aturan tata bahasa.

PENUTUP

Berdasarkan hasil temuan penelitian, diketahui bahwa sifat atau kepribadian dosen dalam proses belajar mengajar mata kuliah Reading yang dirasakan oleh mahasiswa berada pada kategori baik, dengan skor rata-rata sebesar 3,78 atau TCR 75,6%. Menurut mahasiswa, dosen menguasai materi perkuliahan yang diajarkan, tapi mereka merasa dosen masih sangat kurang menggunakan alat peraga dalam menjelaskan materi.

Hasil temuan penelitian ini juga memperlihatkan bahwa motivasi belajar mahasiswa dalam proses belajar mengajar mata kuliah Reading berada pada kategori baik, skor rata-rata sebesar 3,63 atau TCR 72,6%. Dalam hal ini, mahasiswa selalu semangat dan termotivasi untuk hadir di kelas walau terkendala berbagai halangan. Namun demikian, motivasi mahasiswa untuk belajar Reading di rumahnya masing-masing masih sangat kurang dan perlu ditumbuhkan.

Berdasarkan hasil uji regresi yang menunjukkan nilai R Square 0,392, dapat diketahui bahwa kontribusi variabel Kepribadian terhadap variabel Motivasi adalah 39,20%, sedangkan 60,80% ditentukan oleh faktor lain. Artinya, hubungan sifat (kepribadian) tidak kuat terhadap motivasi belajar mahasiswa dalam proses belajar mengajar mata kuliah Reading.

Karena hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa sifat (kepribadian) dosen tidak memiliki hubungan yang kuat dengan motivasi mahasiswa dalam belajar Reading, maka disarankan bagi peneliti lain untuk meneliti aspek-aspek lainnya yang menentukan motivasi mahasiswa dalam belajar Reading. Disamping itu, hasil penelitian ini hanya berlaku untuk mata kuliah Reading, disarankan kepada peneliti lain agar melakukan penelitian mengenai hubungan sifat (kepribadian) dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa dalam belajar mata kuliah lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alyousef, H. Suleiman. 2005. “Pengajaran Pemahaman Membaca untuk Pembelajar ESL/EFL”. The Reading Matrix. Vol. 5, No. 2, hlm.143-154.

Gardner, C. Robert. 2009. “Motivasi Guru, Motivasi Siswa di Kelas, dan Prestasi Belajar Bahasa Kedua”. Porta Linguarium. Vol. Juni, hlm.25-36.

Hamalik, Oemar. 2000. Psikologi Belajar dan Manager. Bandung: Sinar Baru Algessindo.

Harmer, Jeremy. 2006. Cara Mengajar Bahasa Inggris. Essex: Pearson-Longman.

Harris, A.J. dan Edward R. Sipay. 1980. Cara Meningkatkan Kemampuan Membaca: Panduan untuk Metode Perkembangan dan Remedial. Longman.

Hedge, Tricia. 2003. Pengajaran & Pembelajaran di Kelas Bahasa. UK: OUP.

Hermawati. 2010. “Hubungan Persepsi Mahasiswa Tentang Kepribadian dan Kemampuan Dosen Dalam Mengajar dengan Motivasi Belajar Mahasiswa Akademi Kebidanan Kutai Husada Tenggarong”. Tesis. Program Pascasarjana Sebelas Maret. Surakarta.

Johan, A. Ghani. 2003. Membaca dan Menterjemahkan: Pelajaran Membaca dan Menterjemahkan Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khodasenas, M. Reza dkk. 2013. “Artikel Review: Peran Motivasi dalam Pembelajaran Bahasa”. International Research Journal of Applied and Basic Sciences. Vol. 6(6): 766:733.

Makmun, Abin Samsudin. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Diupdate pada
2026-07-24
Kasino Olahraga online-casino-bonuses

Keamanan data

Keamanan dimulai dengan memahami cara developer mengumpulkan dan membagikan data Anda. Praktik privasi dan keamanan data dapat bervariasi berdasarkan penggunaan, wilayah, dan usia Anda.
share Tidak ada data yang dibagikan kepada pihak ketiga
cloud_off Tidak ada data yang dikumpulkan
lock Data dienkripsi saat transit

Peringkat dan ulasan

Pengguna_gk914
⭐⭐⭐⭐⭐ · 2026-07-24
Experience top-notch esports betting platforms in Asia through: CMD369, SboBet, and Saba Esports.
663 orang menganggap ini berguna
Player_xs
⭐⭐⭐⭐⭐ · 2 hari yang lalu
Sangat aman dan cepat! Saya bisa mengakses semuanya tanpa masalah. Sangat merekomendasikan LOMBOKTOTO.
585 orang menganggap ini berguna

Pertanyaan Umum (FAQ)

T: Bagaimana cara mengunduh LOMBOKTOTO?
J: Cukup klik tombol instal berwarna hijau di bagian atas dan ikuti instruksi amannya.

T: Bisakah akun saya di LOMBOKTOTO dicuri?
J: LOMBOKTOTO dilengkapi autentikasi ganda dan sistem keamanan canggih untuk melindungi akun Anda.

Aplikasi Serupa