🔥 Selamat datang di SLOTVIETNAM — Jelajahi tren terbaru tentang kukubima-bet!
Pola Kalimat Bahasa Indonesia: SPO, Bukan SVO
Pemelajar atau orang yang mempelajari bahasa pasti pernah mengenal istilah SVO. SVO merupakan singkatan dari Subject, Verb, dan Object atau Subjek, Verba, dan Objek. Istilah ini sering ditemukan dalam bagian buku yang membicarakan pola kalimat dalam suatu bahasa.
Dalam kajian linguistik, istilah tersebut tidak setara atau berada dalam kaidah yang berbeda. Verba atau kata kerja merupakan salah satu jenis kelas kata. Jenis lainnya ada nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), adverbia (kata keterangan), pronomina (kata ganti), dan numeralia (kata bilangan).
Nomina, verba, adjektiva, adverbia, pronomina, dan numeralia ini berpadu menyusun sebuah kalimat. Contoh:
(1) Adik membaca novel Toto Chan.
Pada kalimat (1), kata adik dan novel merupakan nomina karena dapat dinegasikan dengan kata bukan. Dalam bahasa Indonesia, nomina dapat dinegasikan dengan kata bukan, seperti bukan adik, bukan novel, bukan rumah, bukan saya, bukan pena kami, bukan guru, dan bukan dokter. Sementara itu, kata membaca merupakan verba karena dapat dinegasikan dengan kata tidak.
Contoh lainnya:
(2) Ibu membeli tiga belas buku cerita anak.
Pada kalimat (2), kata ibu merupakan nomina, membeli verba, tiga belas numeralia, dan buku cerita anak nomina.
Ketika berpadu dalam kalimat, kata-kata akan menempati fungsi: subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel.), atau keterangan (Ket.).
Pada kalimat (1), “Adik membaca novel Toto Chan” merupakan konstruksi adik sebagai subjek, membaca sebagai predikat, dan novel Toto Chan sebagai objek. Pada kalimat (2), “Ibu membeli tiga belas buku cerita anak” merupakan konstruksi ibu sebagai subjek, membeli sebagai predikat, tiga belas buku cerita anak sebagai objek.
Dengan demikian, kalimat (1) dan (2) memiliki konstruksi SPO. Selain SPO, ada konstruksi lain:
(3) Pelaku kejahatan terdiam. (S P)
(4) Siswa berdiri di halaman. (SPK)
(5) Guru menerangkan pelajaran di kelas. (SPOK)
(6) Kakak berlari kencang ke rumah. (SPPelK)
Pada kalimat (3), pelaku kejahatan subjek, terdiam predikat. Pada kalimat (4), siswa subjek, berdiri predikat, di halaman keterangan tempat. Pada kalimat (5), guru subjek, menerangkan predikat, pelajaran objek, di kelas keterangan tempat. Pada kalimat (6), kakak subjek, berlari predikat, kencang pelengkap, ke rumah keterangan tempat.
Berdasarkan contoh, fungsi kalimat dalam bahasa Indonesia meliputi SP, SPO, SPK, SPOK, SPPelK, atau lainnya. Istilah yang dipakai adalah subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Hal ini berbeda dengan istilah SVO.
Pola SVO dipengaruhi oleh Joseph Harold Greenberg (1966) dalam buku Universal of Language. Greenberg mengemukakan tipologi bahasa: ada bahasa dengan tipe O mengikuti verba (VO) seperti Indonesia dan Inggris, ada tipe O mendahului verba (OV) seperti Turki dan Jepang, serta bahasa dengan urutan bebas seperti Rusia dan Latin.
Istilah SVO diserap oleh pengajar bahasa Indonesia dan digunakan dalam modul dan bahan ajar. Namun, pengajar tidak menjelaskan bahwa pola kalimat (SPOPelKet) dan kelas kata adalah dua hal berbeda. Akibatnya, pelajar bingung dan ada yang menjawab SVO atau SPO.
Kekeliruan ini perlu diluruskan agar pelajar memahami konstruksi kalimat. Ketika menyusun kalimat, mereka harus menggunakan kognisi bahasa yang dipelajari dengan baik, tidak mencampurkan antara satu bahasa dengan bahasa lain.
Hal ini berbeda dengan seseorang yang menggunakan bahasa Inggris tetapi konstruksi kalimatnya bahasa Indonesia, misalnya “He work yesterday”. Mereka tidak sadar bahwa predikat bahasa Inggris ditentukan oleh subjek dan waktu. Predikat bahasa Inggris bergantung pada subjek: untuk I, you, they menggunakan verb 1, sedangkan he, she, it mendapat s/es. Selain itu, waktu lampau menggunakan verb 2.
Karena predikat bahasa Inggris ditentukan oleh siapa dan kapan, verba menjadi perhatian khusus sehingga terbentuk SVO. Sebaliknya, predikat bahasa Indonesia tidak ditentukan oleh pelaku atau waktu, sehingga tidak perlu menekankan verba.
Dalam referensi, istilah SVO ditemukan dalam penelitian “Beberapa Aspek Konstruksi Kalimat SVO dalam Bahasa Indonesia” oleh Juwono (1985). Pelajar harus mengenali bahwa pola tersebut tidak tepat. Jika pengajar menggunakan SPO dan pengajar lain SVO, atau pelajar tidak menanyakan perbedaannya, kognisi mereka terhambat.
Membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa lain membantu menemukan kaidah yang tepat. Karena itu, gunakan konstruksi SPO untuk kalimat, dan gunakan nomina, verba, adjektiva, adverbia, pronomina, numeralia ketika membicarakan kata penyusun kalimat.
Kasino
Olahraga
demo-slot-max-bet