SUPERMPO

Google Play ID Studio
4.462
721 rb ulasan
19 jt+
Didownload
18+
Rating Konten
Resmi & Terverifikasi ⚡ Akses Instan 🔥 Promo Terbatas
💳 Pilih paket keuntungan Anda:
Rp 50.000 Rp 150.000 847% OFF
Tangkapan Layar Tangkapan Layar Tangkapan Layar Tangkapan Layar

Tentang aplikasi ini

arrow_forward

🔥 Selamat datang di SUPERMPO — Jelajahi tren terbaru tentang casino-online-mexico!

I Pendahuluan

Kemajuan teknologi saat ini semakin berkembang pesat. Seiring dengan kemajuan teknologi tersebut diikuti pula dengan kemajuan dan perkembangan dunia fotografi yang dimulai dari penemuan kamera obscura sampai dengan penemuan-penemuan fotografi berbasis digital. Fotografi menjadi salah satu bentuk pendokumentasian kehidupan. Fotografi juga sebagai salah satu media ekspresi dengan memanfaatkan unsur objek yang berada disekeliling, seperti kehidupan sehari-hari manusia, pemandangan alam, ekspresi wajah manusia dan lainnya.

Menurut Sukarya (2009:11), Fotografi merupakan sebuah seni melihat (Sukarya, 2009:11). Melihat dan memahami suatu karya fotografi menyadarkan bahwa fotografi telah mengajarkan melihat seluruh dunia dengan cara yang unik. Mengabadikan momen penting dalam kehidupan sehari-hari, kenangan dalam hidup, keagungan alam semesta, ekspresi wajah kepolosan seorang anak, atau pada sekuntum bunga di tepi sungai, semua itu merupakan cara unik untuk melihat dalam dunia fotografi.

Segi komposisi dalam fotografi merupakan hal yang perlu diperhatikan, selain faktor subjektif dan peralatan kamera yang digunakan. Permasalahn berbagai objek yang dipotret dalam bingkai foto merupakan bagian dari komposisi fotografi. Bagus tidaknya komposisi sebuah foto sangat tergantung kebutuhan pada foto itu sendiri. Komposisi dapat diciptakan dengan mengatur benda yang akan dipotret atau mengatur sudut pandang kamera. Dan yang tidak bisa diatur adalah pemilihan lensa itu sendiri karena lensa mempengaruhi bagaimana fotografer membidik objek dalam frame. Menurut Sukarya (2009:45), menghasilkan sebuah karya seni fotografi tentunya menggunakan peralatan, teknik dan komposisi yang khusus, tetapi hasil foto yang baik tidak selalu mengandalkan peralatan yang lengkap, sesuai dengan teknik atau sesuai komposisi dan komposisi yang bagus adalah yang terasa enak dihati.

Berkembangnya bidang fotografi menciptakan beberapa varian fotografi yaitu fotografi panorama, nature, maupun landscape, fotografi flora dan fauna, fotografi dokumentasi, fotografi jurnalistik, fotografi seni dan masih banyak lagi. Dari berbagai cabang fotografi peneliti tertarik untuk membahas tentang komposisi rule of third dan point of interest pada hasil karya enara fotografi. Menurut Santoso (2010:3) karya fotografi untuk pertama kali yang ada di dunia adalah foto panorama atau landscape yang mengambil objek dari jendela sebuah ruangan kerja oleh Louis Jacques Mande Daggurre di tahun 1839, dia berhasil memindahkan secara permanen gambar pemandangan yang nampak pada jendela ruang kerjanya.

Enara fotografi merupakan suatu usaha dibidang fotografi yang dimiliki oleh eris munandar yang berdomisili di kertapati kota palembang. Enara fotografi lebih menekankan untuk foto-foto prewedding dan wedding. Eris munandar sebagai pemilik enara fotografi merupakan fotografer yang peka dalam mengabadikan objek sehingga menghasilkan karya-karya fotografi prewedding dan wedding yang menarik dan mempunyai elemen komposisi visual yang menarik untuk diteliti. Penikmat karya enara fotografi diajak untuk menyadari bahwa keindahan di sekitar kita mempunyai nilai seni sebagai sebuah karya seni. Peneliti memilih membahas fotografi karya eris munandar sebagai pemilik enara fotografi yang ditekankan pada komposisi rule of third dan point of interest dari karya enara fotografi.

II Tinjauan Pustaka

2.1 Fotografi

Foto dan grafi merupakan asal terbentuknya kata fotografi. Menurut Santoso (2010:3), fotografi merupakan gabungan dari ilmu, teknologi, dan seni. Dimana foto didefiniskan sebagai cahaya atau sinar atau penyiran, sedangkan grafi dapat didefisikan menulis atau melukis. Dan pada tahun 1839, oleh ilmuwan Perancis bernama Louis Jacques Mande Daggurre mengumumkan hasil eksperimennya yaitu penemuan cara mengabadikan gambar dengan mengunakan suatu alat rekam dan lensa. Sedangkan menurut Deniek G. Sukarya (2009: 11), fotografi dalam dunia seni mengajarkan pada kita cara yang unik dalam melihat dunia dan sekaligus memberikan penyadaran baru akan segala ada di sekitar kita.

Perkembangan dunia fotografi saat ini sangat pesat dan mempunyai pembagian mengikuti dari keanekaragaman. Keanekaragaman tersebut menjadi kajian fotografi spesialisasi, seperti landscape, makro, human interst, panorama, olahraga, jurnalistik dan masih banyak lagi.

Pada akhir abad ke-10 Masehi, Ibnu al-Haitham bersama dengan Kamaluddin al-Farisi berhasil menemukan prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera dan menerapkannya dalam sebuah kamera kotak yang bernama Obscura. Kemudian kamera Obscura ini pun mulai diperkenalkan secara luas di Barat oleh Cardano Geronimo pada abad ke-16 Masehi dengan mengganti lubang bidik pada kamera dengan lensa. Tahun 1665, disusunlah kamera berukuran kecil yang fungsinya hampir sama seperti kamera Obscura. Pada masa ini, perkembangan fotografi hanya berpusat pada pengembangan sistem kamera itu sendiri. Sedangkan hasil dari kamera, yang berupa gambar foto, fungsinya sebagai perekam suatu benda atau peristiwa tanpa dianggap sebagai suatu karya seni visual layaknya lukisan ataupun arca pada masa itu. Artis-artis visual berpendapat bahwa gambar foto yang dihasilkan oleh kamera bukan dengan kemahiran tangan fotografer, melainkan karena kecanggihan dari kamera itu sendiri. Oleh karena itulah mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa gambar foto merupakan suatu karya seni.

Namun, pada akhir tahun 1860an, muncul istilah aliran pictorialism yang diperkenalkan oleh Henry Peach Robinson, penulis asal Inggris, dalam bukunya yang berjudul Pictorial Effect in Photography (1869). Dan Alfred Stieglitz adalah tokoh yang berjasa dalam memperjuangkan aliran ini demi diakuinya fotografi sebagai karya seni pada abad ke-20. Aliran pictorialism merupakan aliran dalam fotografi yang menekankan keindahan dari subjek, nada, dan komposisi daripada dokumentasi suatu realitas. Teknik fotografi yang digunakan dalam aliran ini diantaranya sengaja mengkaburkan fokus, menggunakan filter untuk kesan tertentu, membuat cetakan nada warnasepia dan memanipulasi foto di dalam ruang gelap agar foto yang dihasilkan menyerupai karya lukisan.

2.2 Teknik Komposisi dalam Dunia Fotografi

Mendapatkan komposisi foto yang menarik, tidak hanya didapatkan dengan meng-edit foto meski dengan software editing tercanggih saat ini. Agar sebuah foto terlihat bagus dan menarik, seorang fotografer harus jeli dan kreatif dalam menerapkan teknik komposisi ini.

Berikut merupakan teknik komposisi fotografi, yaitu:

- Komposisi Foto Rule of Third
- Komposisi Foto Golden Shape
- Komposisi Foto Simetris (Centred Composition)
- Komposisi Foto Repetition dan Pattern
- Komposisi Foto Perspektif
- Komposisi Foto Frame in Frame
- Komposisi Foto Leading Lines
- Komposisi Foto Negative Space
- Keseimbangan Elemen Foto
- Komposisi Foto Golden Spiral atau Golden Ratio
- Change your Point of View
- Komposisi Foto Refleksi
- Komposisi Foto Separasi
- Komposisi Foto Motion Blur
- Komposisi Foto Noise
- Komposisi Foto Penuhi Frame (Fill the Frame)
- Komposisi Foto Tekstur (Texture)
- Komposisi Warna (Color)
- Rule of Odds (Penggangu)
- Isolasi Objek (Depth of Field)

2.3 Komposisi Fotografi

Menurut Y. Luo dan X. Tang (2008), komposisi fotografi merupakan penataan elemen-elemen visual dengan sedemikian rupa sehingga foto tidak hanya menjadi lebih menarik tetapi juga mampu mengungkapkan maksud fotografer dengan jelas. Sedangkan menurut E. Tjin (2011), apa yang dikomunikasikan, tergantung dari apa yang dipilih untuk dimasukkan dalam foto dan bagaimana cara menyusunnya. Salah satu panduan komposisi yang akan dibahas adalah panduan komposisi rule of thirds dan point of interest.

Menurut Peterson (2012), fotografer dan seniman menggunakan rule of thirds dan point of interest saat menciptakan karyanya karena suatu teori yang telah terbukti. Yaitu, jika subjek yang menjadi pusat perhatian berada di tengah bidang foto maka objek akan dianggap statis. Mata langsung diarahkan ke subjek dan tidak akan mengarah ke mana-mana lagi karena jarak subjek ke semua sisi foto sama. Untuk itu subjek ditempatkan mendekati salah satu tepi foto, hal ini akan memaksa mata mengikuti dan mencari objek foto. Dengan cara seperti ini foto menjadi lebih menarik karena terkesan interaktif. Seperti sebuah percakapan yang terjadi antara yang melihat dan foto tersebut. Menurut S. Mahlke (2008), berdasarkan kajian psikologis, kemampuan manusia untuk menilai dan mengklasifikasi estetika lebih bersifat kualitatif dan subjektif dan banyak mengacu pada persepsi visual dan ketertarikan pada jenis fotografi yang berbeda-beda.

2.4 Rule of Thirds

L. Mai, H. Le, Y. Niu dan F. Liu (2011) mengatakan bahwa rule of thirds merupakan salah satu panduan komposisi yang paling dikenal oleh fotografer untuk menciptakan foto yang berkualitas. Komposisi ini didapatkan dengan membagi bidang gambar dalam tiga bagian yang sama besar dan proporsional baik horizontal maupun vertikal. Maka terbentuklah garis-garis imajiner dan empat titik perpotongan garis imajiner tersebut. Sedangkan menurut E. Tjin (2011), sebaiknya bagian foto yang paling menarik ditempatkan di salah satu titik tersebut dan komposisi dalam fotografi bertujuan untuk menata elemen-elemen visual yang akan dimasukkan ke dalam foto agar menjadi lebih menarik. Menurut S. Mahlke (2008), berdasarkan kajian psikologis, kemampuan manusia untuk menilai dan mengklasifikasi estetika lebih bersifat kualitatif dan subjektif dan banyak mengacu pada persepsi visual dan ketertarikan pada jenis fotografi yang berbeda-beda.

2.5 Point of Interest

Point of interest dalam fotografi berkaitan dengan ide atau titik utama atau fokus utama yang ada pada sebuah foto. Sebuah foto tidak bedanya sebuah artikel akan memiliki sebuah fokus yang mewakili apa yang ingin disampaikan oleh sang fotografer lewat fotonya. Point of interest titik utama yang menjadi inti dari cerita dalam sebuah foto. Kaidah-kaidah fotografi sangat ditekankan tentang adanya point of interest, dan point of interest akan menambah kedalaman visual dan pesan yang akan disampaikan.

Dalam rule of third, fotografer cukup membagi bidang foto menjadi 9 kotak yang sama besar dan meletakkan point of interest pada titik atau garis pada bidang yang terbagi menjadi 3 x 3 tersebut.

Objek gambar yang menjadi point of interest ditempatkan pada salah satu dari empat interseksi garis pembagi yang bertanda lingkaran kuning. Titik-titik tersebut dinamakan titik kuat objek. Sebuah foto dengan menempatkan point of interest pada rule of thirds akan lebih jauh enak dipandang, selain itu, foto akan lebih dinilai teratur dalam memilih komposisi.

III Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisa berdasarkan sketsa gambar yang dipadukan dengan hasil karya foto pada enara fotografi berdasarkan kajian teknik fotografi dengan pendekatan komposisi rule of third dan point of interest.

Enara fotografi merupakan bidang usaha yang dimiliki oleh bapak Eris Munandar. Berdiri sejak tahun 2019. Enara fotografi lebih menekankan pada foto prewedding maupun foto wedding. Sejak tahun 2019, enara fotografi mengalami perkembangan sangat pesat dan saat ini bidang usaha dari enara fotografi tidak hanya pada foto prewedding maupun foto wedding saja, namun sudah merabah ke dekorasi pelaminan, ruang akad nikah, bridal dan cinematografi ataupun videografi. Enara fotografi beralamatkan di kertapati kota palembang. Selain media konvensional yang digunakan dalam melakukan promosi, enara fotografi juga sudah mengunakan media online, seperti website, instagram maupun facebook. Sudah sangat banyak hasil karya foto dari enara fotografi, mulai dari foto prewedding dalam ruangan maupun foto prewedding diluar ruangan.

Dalam penelitian ini hanya diambil lima belas karya foto sebagai sampel untuk dilakukan analisa berdasarkan gambar sketsa dan kajian teori fotografi mengenai komposisi rule of thirds dan point of interest sebagai teknik fotografi

IV Hasil dan Pembahasan

Enara fotografi sudah menghasilkan karya foto yang tidak sedikit khususnya foto prewedding, pada penelitian ini penulis menekankan untuk menganalisa foto dimana data diambil dari media sosial yaitu instagram enara fotografi. Hasil karya foto yang akan dianalisa berdasarkan sketsa gambar yang dipadukan dengan hasil foto dan dikeseimbangkan dengan garis imajiner, namun mengacu pada komposisi rule of third dan point of interest.

Karya foto dengan judul prewedding berjudul story of nadya dan agung versi outdoor

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Nikon D6300
- Lensa: 50mm Nikon
- ISO: 400
- Diafragma: f/2.0
- Shutter speed: 1/100
- Speedlite: TT-685 Nikon

Karya foto dengan judul prewedding berjudul story of nadya dan agung versi indoor

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Nikon D6300
- Lensa: 35mm Nikon
- ISO: 400
- Diafragma: f/4.0
- Shutter speed: 1/150
- Speedlite: TT-685 Nikon

Karya foto dengan judul prewedding berjudul story of nico

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Nikon D6300
- Lensa: 35mm Nikon
- ISO: 400
- Diafragma: f/1.2
- Shutter speed: 1/150
- Speedlite: TT-685 Nikon

Karya foto prewedding ini berjudul story of nadya dan agung versi mirror

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Nikon D6300
- Lensa: 50mm Nikon
- ISO: 200
- Diafragma: f/2.0
- Shutter speed: 1/160
- Speedlite: TT-685 Nikon

Karya foto dengan judul prewedding berjudul story of silvy dan megi

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 35mm for sony
- ISO: 400
- Diafragma: f/2.4
- Shutter speed: 1/180
- Speedlite: TT-685 Nikon

Karya foto prewedding ini berjudul story of sinta dan efran versi outdoor

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 50mm for sony
- ISO: 200
- Diafragma: f/4.8
- Shutter speed: 1/160
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto preweddding berjudul story of santi dan angga

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 50mm for sony
- ISO: 100
- Diafragma: f/3.0
- Shutter speed: 1/160
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto preweddding berjudul story of leni dan belli

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 50mm for sony
- ISO: 100
- Diafragma: f/2.0
- Shutter speed: 1/200
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto preweddding berjudul story of dila dan natha

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 50mm for sony
- ISO: 100
- Diafragma: f/2.8
- Shutter speed: 1/400
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of dila dan natha

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 50mm for sony
- ISO: 250
- Diafragma: f/4.8
- Shutter speed: 1/450
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of dila dan natha

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 16-35mm sony
- ISO: 200
- Diafragma: f/2.8
- Shutter speed: 1/450
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of dila dan natha

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 85mm sony
- ISO: 400
- Diafragma: f/2.8
- Shutter speed: 1/250
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of vety dan edo

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 16-35mm sony
- ISO: 200
- Diafragma: f/3.0
- Shutter speed: 1/400
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of vety dan edo

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 35mm sony
- ISO: 200
- Diafragma: f/4.5
- Shutter speed: 1/250
- Speedlite: TT-685 Sony

Karya foto weddding berjudul story of cella dan fiqih

Piranti yang digunakan, yaitu:

- Kamera: Sony 6300
- Lensa: 16-35mm sony
- ISO: 250
- Diafragma: f/2.0
- Shutter speed: 1/250
- Speedlite: TT-685 Sony
Fotografi merupakan kegiatan menggambar atau menulis menggunakan cahaya. Karena hasilnya yang berupa benda visual, dapat dikatakan pula bahwa fotografi merupakan salah satu alat komunikasi efektif yang digunakan oleh seorang fotografer kepada para penerima pesan. Sedangkan seni merupakan kegiatan manusia dalam merefleksikan kenyataan ke dalam sebuah karya yang bentuk dan isinya memiliki daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu didalam rohani si penerima.

Karya foto enara fotografi hanya diambil beberapa sample saja untuk dilakukan analisa berdasarkan gambar sketsa yang dipadukan dengan hasil foto dan dikaitkan dengan kajian teoris komposisi rule of third dan point of interest. Berikut merupakan hasil dari analisa berdasarkan gambar sketsa yang dipadukan dengan hasil foto:

Hasil karya foto enara fotografi berdasarkan gambar sketsa serta membagi menjadi sembilan kotak dan kemudian garis pada bidang dibagi lagi menjadi tiga bagian dan pertemuan garis horizontal dan garis vertikal terbentuk titik maka menunjukan bahwa karya foto tersebut dapat dikatakan memiliki komposisi point of interest, dimana ke dua objek terletak dititik pembagian garis. Sedangkan elemen visual yang terbentuk yaitu elemen ruang, elemen bentuk dan elemen warna.

Hasil karya foto belum dikatakan memiliki komposisi point of interest tetapi dalam kategori komposisi simetris potrait dan lanscape on frame, karena berdasarkan gambar sketsa dan membagi sembilan kotak, lalu garis pada bidang dibagi menjadi tiga bagian dan pertemuan garis horizontal dan garis vertikal terbentuk titik, objek tidak berada pada titik pertemuan garis garis horizontal dan garis vertikal. Saat pengambilan objek, fotografer menggunakan pedoman simetris rule yaitu saat pengambilan gambar atau foto, objek diposisikan ditengah frame setelah membagi bidang menjadi 1/3 bidang.

Hasil karya dapat dikatakan memiliki komposisi rule of interest landscape dan potrait, karena berdasarkan gambar sketsa dan membagi sembilan kotak, lalu garis pada bidang dibagi menjadi tiga bagian dan pertemuan garis horizontal dan garis vertikal terbentuk titik, objek berada pada titik pertemuan garis garis horizontal dan garis vertikal. Saat pengambilan objek, fotografer menggunakan pedoman the rule of thirds yaitu saat pengambilan gambar membagi bidang menjadi 1/3 bidang.

Hasil karya foto enara fotografi berdasarkan gambar sketsa serta membagi menjadi sembilan kotak dan kemudian garis pada bidang dibagi menjadi tiga bagian lagi dan pada pertemuan garis horizontal dan garis vertikal terbentuk titik maka menunjukan bahwa karya foto tersebut dapat dikatakan memiliki komposisi point of interest, objek terletak dititik pembagian garis. Elemen warna, elemen garis dan elemen bentuk juga terbangun di hasil karya foto ini. ketajaman warna menimbulkan kesan dramatis. Komposisi latar depan yang dominasi. Point of interest terletak pada bagian depan atau foreground sehingga lebih dominan di depan. Dengan format horizontal, seakan-akan membuat ruang foto menjadi lebih luas. Secara tidak langsung hal tersebut dipengaruhi oleh adanya kesamaan dengan mata manusia ketika melihat sesuatu lebih pada lebar dan luasnya ruang dari pada tinggi.

V Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang komposisi rule of third dan point of interest pada karya foto enara fotografi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

- Hasil karya foto enara fotografi mengimplementasikan komposisi rule of third dan point of interest yang merupakan teknik dalam fotografi.
- Hasil karya foto enara fotografi menunjukkan bahwa karya foto terdapat elemen garis, elemen bentuk, elemen tekstur, elemen bidang, elemen ruang, dan elemen warna yang ini merupakan bagian dari elemen visual.

VI Daftar PUSTAKA

Agung Dwi Raharjo, 2014, Komposisi Karya Fotografi Landscape Tunggal Setiawan, Unversitas Yogyakarta.

D. Peterson, “Why Does the Rule of Thirds Work?,” 2012.

E. Tjin, Kamera DSLR Itu Mudah!, Jakarta: Bukuné, 2011, p.111.

H. Tong, M. Li, H.-J. Zhang, J. He dan C. Zhang, “Classification of Digital Photos Taken by Photographers or Home Users,” dalam Advances in Multimedia Information Processing - PCM 2004 5th Pacific Rim Conference on Multimedia, Tokyo, 2004.

J. Waterhouse, “Photography Rule of Thirds,” 2011.

L. Mai, H. Le, Y. Niu dan F. Liu, “Rule of Thirds Detection from Photograph,” dalam Multimedia (ISM), 2011 IEEE International Symposium on, Dana Point, 2011.

M. Maleš, A. Heđi dan M. Grgić, “Compositional rule of thirds detection,” dalam ELMAR, 2012 Proceedings, Zadar, 2012.

S. Mahlke, “Visual aesthetics and the user experience,” dalam Dagstuhl Seminar Proceedings The Study of Visual Aesthetics in Human-Computer Interaction, Dagstuhl, 2008.

Y. Luo dan X. Tang, “Photo and Video Quality evaluation: Focusing on the Subject,” dalam Computer Vision – ECCV 2008 10th European Conference on Computer Vision, Marseille, 2008.
Diupdate pada
2026-07-24
Kasino Olahraga new-orleans-casino

Keamanan data

Keamanan dimulai dengan memahami cara developer mengumpulkan dan membagikan data Anda. Praktik privasi dan keamanan data dapat bervariasi berdasarkan penggunaan, wilayah, dan usia Anda.
share Tidak ada data yang dibagikan kepada pihak ketiga
cloud_off Tidak ada data yang dikumpulkan
lock Data dienkripsi saat transit

Peringkat dan ulasan

Pengguna_bp496
⭐⭐⭐⭐⭐ · 2026-07-24
View current job openings at Betsson Group across technology, customer service, and other teams, with roles available in multiple locations.
777 orang menganggap ini berguna
Player_cj
⭐⭐⭐⭐⭐ · 2 hari yang lalu
Sangat aman dan cepat! Saya bisa mengakses semuanya tanpa masalah. Sangat merekomendasikan SUPERMPO.
666 orang menganggap ini berguna

Pertanyaan Umum (FAQ)

T: Bagaimana cara mengunduh SUPERMPO?
J: Cukup klik tombol instal berwarna hijau di bagian atas dan ikuti instruksi amannya.

T: Apakah SUPERMPO resmi di Google Play?
J: Ya! SUPERMPO terdaftar resmi di Google Play dengan badge developer terverifikasi.

Aplikasi Serupa