🔥 Selamat datang di Bet In Cricket — Jelajahi tren terbaru tentang guide-rp777-bet!
Libur Panjang Akhir Pekan, 77 Tunawisma di Kota Bandung Terjaring Operasi
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung bersama instansi terkait mulai mengintensifkan penanganan tunawisma pada libur panjang akhir pekan ini. Penjangkauan dan penertiban telah dilakukan terhadap 77 tunawisma di sejumlah titik strategis Kota Bandung.
Kepala Dinsos Kota Bandung Yorisa Sativa mengatakan, penanganan tunawisma ditujukan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat, sekaligus untuk citra kota. Apalagi, Pemerintah Kota Bandung tengah melaksanakan bautifikasi pada 17 ruas jalan utama.
"Penjangkauan dilakukan sejak pukul 03.00 WIB hingga sekitar pukul 06.00 WIB, dengan melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Operasi tersebut dibagi menjadi dua regu yang bergerak serentak dari dua titik awal berbeda," kata Yorisa, Jumat (16/1/2026).
Regu pertama, terang dia, menyusuri kawasan Simpang Lima hingga Masjid Agung Bandung, sedangkan regu kedua bergerak dari Jalan Muhammad Toha melalui jalur-jalur yang telah ditentukan. Dari total 77 tunawisma yang dijangkau, 65 orang ialah laki-laki.
Keberadaan tunawisma tersebut, jelas Yorisa, berpotensi menimbulkan berbagai persoalan sosial. Mulai dari masalah kesehatan seperti risiko penyakit menular, gangguan ketertiban dan keamanan, hingga menurunkan keindahan kota.
Yorisa menuturkan, sebagian besar Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang terjangkau berasal dari wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, masing-masing berjumlah 20 orang. Selain itu, ada pula pendatang dari berbagai daerah lain.
"Seperti dari Cianjur, Garut, Kabupaten Bandung Barat, Klaten, Magetan, Lampung, Jakarta Selatan, hingga Medan dan Surabaya. Pendataan dilakukan berdasarkan KTP maupun hasil anamnesis bagi yang tidak memiliki identitas," kata Yorisa.
Ditampung sementara
Saat ini, terang dia, seluruh PPKS yang terjaring ditampung sementara di Kantor Dinsos Kota Bandung untuk menjalani asesmen lanjutan guna menentukan langkah berikutnya. Mulai dari reunifikasi dengan keluarga, pemulangan ke daerah asal, hingga rujukan ke lembaga sosial.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, secara umum kelompok tunawisma terbagi ke dalam tiga kategori utama, yakni gelandangan, pengemis, dan pemulung. Berdasarkan data Dinsos, jumlah ketiga kategori tunawisma tersebut mengalami peningkatan pada 2025.
Pada 2025, papar dia, jumlah gelandangan tercatat sebanyak 156 jiwa, meningkat dari 113 jiwa pada 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 129 jiwa telah dijangkau melalui Unit Social Response (USR), sementara 27 jiwa belum terjangkau.
Adapun jumlah pengemis mencapai 223 jiwa, naik dari 188 jiwa pada tahun sebelumnya, dengan 184 jiwa telah mendapatkan penanganan. Sementara itu, jumlah pemulung tercatat 57 jiwa atau meningkat dari 41 jiwa pada 2024.
Yorisa mengakui, sebagian tunawisma kerap kembali ke jalan meski telah dibina, karena aktivitas di jalan dianggap dapat memberikan penghasilan instan. Oleh karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberikan uang atau barang kepada tunawisma di jalan.
"Kami akan menggencarkan sosialisasi dan imbauan, termasuk melalui Diskominfo, ATCS, serta Satpol PP, agar masyarakat tidak memberi di jalan. Memberi di jalan justru tidak mendidik dan memperpanjang masalah," tukas Yorisa.
Kasino
Olahraga
letak-bet-kelas-smp-sebelah-mana