🔥 Selamat datang di Book Of Dead Casino — Jelajahi tren terbaru tentang real-money-casino-online!
Demo Ricuh di Depan DPRD Bali, 138 Orang Diamankan
DENPASAR - Usai demo di Mapolda Bali, Jalan WR Supratman Nomor 7 Denpasar, ratusan demonstran menuju kantor DPRD Bali di Jalan Dr Kusuma Atmaja, Kawasan Niti Mandala, Denpasar, Sabtu (30/8) pada pukul 17.30 Wita. Massa yang melengkapi diri dengan batu dan kayu kumpul di pertigaan Jalan Dr Kusuma Atmaja-Jalan Letjen S Parman. Sebanyak 138 pendemo diamankan pihak kepolisian dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Bali ini.
Informasi yang dihimpun, pergerakan ratusan demonstran ini direspons cepat oleh aparat kepolisian. Dua unit mobil Dalmas langsung disiagakan di depan Kantor DPRD Bali untuk menghalau massa merangsek masuk gedung dewan tersebut. Tiba-tiba ratusan massa datang melakukan penyerangan. Mereka melempari petugas dengan batu dan kayu. Kalah jumlah, petugas memilih mundur dan meninggalkan dua mobil tersebut. Salah satu mobil yang membawa tameng, helm, tongkat, dan pelontar gas air mata dirusak massa. Mereka menjarah isinya, lalu mobil tersebut dibakar.
Tak lama kemudian, ratusan polisi datang dari timur, arah Kantor Gubernur. Ratusan personel yang hanya melengkapi diri dengan tongkat itu coba menghalau massa. Disusul kemudian tembakan gas air mata oleh personel Brimob dari arah utara memukul mundur massa ke arah selatan, menuju ke Jalan Raya Puputan. Massa yang beringas itu membakar tameng dan helm polisi di aspal. Situasi makin kacau karena para perusuh kabur ke lapangan berbaur dengan masyarakat yang sedang olahraga. Adapula masyarakat yang sedang olahraga mendekat untuk menonton kericuhan tersebut.
Pada saat itu Kapolsek Denpasar Timur Kompol I Ketut Tomiyasa meminta warga untuk menjauh. "Masyarakat Bali yang sedang olahraga di Lapangan Renon ini kami minta maaf mengganggu aktivitasnya. Kami meminta bapak dan ibu semuanya untuk segera pulang. Ini bukan demo tapi rusuh. Mereka bukan orang Bali. Mereka buat Bali tidak aman," ungkap Kompol Tomiyasa melalui pengeras suara.
Sebagian petugas terus bergerak maju memukul mundur demonstran. Sementara petugas lainnya siaga di depan kantor DPRD. Petugas yang bergerak maju berhenti di perempatan Jalan Puputan-Jalan Tukad Unda sejak pukul 19.00 Wita. Sampai di sana, petugas alami kesulitan lagi. Para pendemo kumpul di Jalan Tukad Unda yang merupakan pemukiman warga. Di sana beberapa kali petugas menembakkan gas air mata untuk mengusir pendemo yang melemparkan molotov dan menembakkan kembang api. Mereka tertahan di sana hingga larut malam. Untuk membuat konsentrasi massa pecah, petugas mengamankan sejumlah orang yang dianggap otak dari kerusuhan itu. Bahkan ada yang harus ditindak keras oleh petugas karena berusaha melawan. Meskipun sudah dilakukan dengan tindakan keras, para pemdemo memilih bertahan. Mereka baru bubar pada Minggu (31/8) pagi pukul 05.00 Wita.
Salah satu fasilitas di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Denpasar jadi sasaran vandalism saat aksi demo.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy dalam keterangan persnya, Minggu kemarin mengatakan Polda Bali mengamankan 138 orang yang diduga dalang kericuhan. Mereka diamankan karena dianggap membahayakan masyarakat sekitar serta mengganggu keamanan lingkungan. Upaya pengamanan ini juga berdasarkan hasil investigasi petugas saat demonstrasi berlangsung. Hasil investigasi menunjukkan para demonstran melakukan kericuhan yang membahayakan warga dan merusak fasilitas umum yang dilakukan dengan cara pelemparan batu, bom molotov, kembang api maupun alat yang berbahaya lainnya.
"Kami tidak melarang orang melakukan unjuk rasa atau demo karena itu hak semua warga negara, namun dalam pelaksanaan semua ada aturan tidak boleh berbuat anarkis yang merugikan orang lain maupun diri sendiri," papar Kombes Pol Ariasandy. Ia juga mengatakan, dari hasil investigasi, mayoritas yang diamankan saat ini berasal dari luar Pulau Bali. Akibat dari insiden ini delapan orang personel Polda Bali dan dua orang warga sipil mengalami luka-luka hingga mendapat perawatan di RS Trijata Polda Bali. Namun, disampaikannya, situasi saat ini sudah kembali normal dan masyarakat bisa beraktivitas secara normal. "Kami tegaskan pasca demo kemarin, situasi kamtibmas di Bali secara umum tetap aman dan kondusif, silahkan melakukan aktifitas seperti biasa namun tetap waspada dan jangan terpengaruh dengan ajakan-ajakan dari orang yang tidak bertanggung jawab yang saat ini viral di media sosial," ungkapnya.
Kombes Pol Ariasandy, menyayangkan aksi demontrasi ini berakhir dengan ricuh, mengingat Bali merupakan pulau pariwisata yang dianggap damai dan tenteram. Ia mengharapkan, kejadian ini tidak terulang kembali karena dapat menurunkan pendapatan di sektor pariwisata yang merupakan sektor utama Bali. "Keamanan Bali sangat penting karena hampir 70% masyarakat kita hidup dari sektor pariwisata, jika keamanan terganggu otomatis akan menurunkan kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata yang kita cintai," pungkasnya.
Sementara itu Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Bali, I Ketut Nayaka, menyesalkan aksi ricuh yang terjadi di depan Gedung DPRD Bali pada, Sabtu malam hingga Minggu dinihari. Ia menegaskan, aksi massa tersebut berlangsung tanpa pemberitahuan resmi kepada sekretariat, sehingga tidak ada pimpinan DPRD yang menerima mereka.
"Belum dan tidak ada (surat) pemberitahuan," kata Nayaka saat dikonfirmasi, Minggu kemarin. Ia menambahkan, karena tidak ada surat resmi, maka kehadiran massa di DPRD Bali juga di luar mekanisme yang seharusnya. "Gak ada (pimpinan DPRD Bali menerima pendemo)," ujarnya. Lebih jauh, Nayaka menilai aksi yang dilakukan massa sama sekali tidak menunjukkan itikad untuk menyampaikan aspirasi. Sebaliknya, gerakan yang berlangsung hingga dini hari justru menunjukkan arah anarkis. "Memang niatnya tidak menyampaikan aspirasi, tapi kalau melihat gerakan sampai jam 5 (pagi) tadi yang dilakukan anarkis mau merusak kantor DPRD seperti di daerah lain," ungkapnya.
Menurutnya, pola gerakan massa yang berujung pada perusakan dan upaya pembakaran mengindikasikan bahwa tujuan utama aksi bukanlah dialog, melainkan tindakan destruktif. Karena itu, ia menyayangkan aksi solidaritas tersebut berubah menjadi ancaman serius terhadap gedung wakil rakyat di Bali. Padahal, jika pendemo lebih dulu menyampaikan surat pemberitahuan ke DPRD, sudah pasti massa akan diorganisir, disambut, dan difasilitasi untuk melakukan diskusi serta menyampaikan orasi secara damai di Wantilan DPRD Bali. Hal itu sebagaimana aksi-aksi damai sebelumnya yang telah diterima dan berjalan tertib.
Kasino
Olahraga
casino-card-games