🔥 Selamat datang di Evobet — Jelajahi tren terbaru tentang bet-338!
Ketika Prabowo Menyebut Jokowi sebagai 'Hopeng'
Pidato baru saja dimulai ketika Presiden Prabowo Subianto langsung menyebut nama Joko Widodo. Tidak ada sambutan pembuka atau daftar pencapaian ekonomi, hanya satu kalimat sederhana yang mengungkapkan rasa hormat kepada Presiden ke-7 Republik Indonesia.
Pada siang itu, Prabowo meresmikan Pabrik Lotte Chemical Indonesia, proyek investasi besar dari Korea Selatan senilai Rp 65 triliun. Namun, alih-alih membahas angka dan teknologi, Prabowo mengingatkan bahwa proyek tersebut sebenarnya berasal dari upaya pendahulunya.
Pabrik tersebut didirikan sebagai hasil lobi Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, dengan pimpinan Korea Selatan beberapa tahun sebelumnya. Prabowo menyatakan bahwa dia telah meminta agar Jokowi diundang ke acara tersebut. Namun, mantan presiden tidak dapat hadir dan menelepon langsung untuk menyampaikan permintaan maaf.
“Meski demikian, saya mengingatkan generasi penerus, saya mengingatkan rakyat Indonesia, marilah kita bijak dalam menghormati kontribusi semua tokoh, kontribusi semua pemimpin,” kata Prabowo, disambut tepuk tangan dari para tamu yang hadir.
Dalam peresmian pabrik tersebut, Prabowo berbicara seolah-olah memberi nasihat, bukan kepada investor, melainkan kepada bangsanya sendiri.
Prabowo mengingatkan bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna dan semuanya memiliki kekurangan. Generasi penerus memiliki kewajiban untuk menjaga rasa keadilan terhadap pemimpin masa lalu. Prabowo juga mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati semua pemimpin yang telah berkontribusi pada kemajuan Indonesia.
Presiden kemudian mengutip pepatah Jawa “mikul dhuwur mendem jero,” yang berarti “mengangkat kebaikan setinggi mungkin, menyembunyikan kekurangan.” Dengan pepatah ini, Prabowo ingin mengingatkan publik bahwa tradisi bangsa ini mengajarkan untuk tidak mengkritik, melainkan memperbaiki dengan hormat.
“Kita harus mengangkat hal-hal baik setinggi mungkin; jika ada kekurangan, kita atasi dan perbaiki. Jangan kita teruskan budaya saling mencela,” ujarnya.
Prabowo menyebutkan bahwa akhir-akhir ini muncul budaya negatif. Pemimpin yang dulunya dihormati kini dikritik. “Pemimpin diperiksa dan dicari kesalahannya. Saat berkuasa dipuji, budaya apa ini? Ini harus diubah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menepis isu mengenai dirinya yang masih berada di bawah bayang-bayang Jokowi. Prabowo juga menegaskan bahwa Jokowi tidak menitipkan apa pun kepadanya.
“Apakah Pak Prabowo takut pada Pak Jokowi? Tidak ada. Kenapa saya harus takut? Saya dekat dengannya, kenapa harus takut?” kata Prabowo. Kata “hopeng” dalam bahasa Hokkien berarti teman dekat.
Apakah Pak Prabowo takut pada Pak Jokowi? Tidak, itu tidak benar. Kenapa saya harus takut padanya? Saya sangat takut padanya.
Pernyataan Prabowo di Cilegon muncul hanya dua hari setelah dia berbicara tentang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang dibangun pada masa pemerintahan Jokowi. Proyek transportasi massal ini kini menjadi sorotan karena beban utangnya yang membengkak, mencapai ratusan triliun rupiah.
Pada peresmian Stasiun Tanah Abang baru, Selasa (4/11/2025), Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus menanggung semua kewajiban proyek Whoosh. Pernyataan itu mengakhiri spekulasi mengenai siapa yang harus menanggung beban utang besar tersebut. Sementara beberapa pihak berupaya mengarahkan opini publik untuk menyatakan bahwa Prabowo seolah “terbebani warisan Jokowi,” Presiden ke-8 RI justru menekankan tanggung jawabnya sebagai penerus.
Sejak awal pemerintahannya, Presiden Prabowo berulang kali menegaskan posisinya yang bebas dari pengaruh Jokowi di ruang publik. Pernyataan serupa juga disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta pada 5 Mei 2025. Di hadapan semua menteri dan kepala lembaga di Kabinet Merah Putih, Prabowo menegaskan bahwa dia bukan boneka yang dikendalikan Jokowi.
“Saya disebut apa? Presiden boneka? Saya dikendalikan Pak Jokowi, seolah-olah Pak Jokowi menelepon saya setiap malam. Saya katakan, itu tidak benar,” ujar Prabowo.
Sebagai Presiden, ia sering berkomunikasi melalui telepon dengan Jokowi. Namun, ia menyatakan bahwa diskusi di antara mereka terbatas pada konsultasi mengenai tata kelola pemerintahan. Meski demikian, Jokowi adalah Presiden ke-7 RI yang telah menjabat dua periode, sehingga penting baginya untuk meminta nasihat dari pengalamannya.
Pernyataan itu muncul hampir sebulan setelah para menteri Kabinet Merah Putih bergiliran mengunjungi kediaman Jokowi di Surakarta, Jawa Tengah, dalam suasana Idul Fitri, awal April 2025. Beberapa menteri yang disebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji. Tidak hanya itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengunjungi kediaman Jokowi pada hari yang berbeda.
Kunjungan para menteri itu memicu spekulasi tentang adanya kepemimpinan ganda dalam pemerintahan. Sebab, beberapa di antaranya menyebut Jokowi sebagai bos. Namun, sebagai anggota kabinet, pemimpin para menteri adalah Presiden. Ketika pernyataan itu menjadi sorotan publik, para menteri mengklarifikasi satu per satu. Sebagian besar dari mereka yang menjadi menteri sejak era Jokowi mengaku salah ucap dan menyatakan bahwa Jokowi bukan bos mereka melainkan mantan bos, sehingga tetap perlu dikunjungi sebagai bentuk silaturahmi.
Bahkan, pada akhir April, Jokowi juga menjelaskan hal ini saat bertemu media di kediamannya di Surakarta. Jokowi meyakini bahwa tidak ada yang salah jika para menteri mengunjungi rumahnya. Apalagi kedatangan mereka tidak dimaksudkan untuk meminta nasihat.
“Mengenai matahari kembar, tidak ada matahari kembar. Hanya ada satu matahari: Presiden Prabowo Subianto,” kata Jokowi.
Sebelum isu matahari kembar mencuat, pembahasan tentang Jokowi juga kerap muncul dalam beberapa pidato Prabowo. Namun, nuansanya berbeda. Prabowo sering mengapresiasi peran Jokowi sebagai salah satu presiden yang memimpin sebelumnya. Bahkan, Prabowo tidak segan berterima kasih kepada ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming atas dukungan politik yang sangat berkontribusi pada kemenangannya di Pilpres 2024.
Dalam pidatonya di perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, pada 15 Februari 2025, misalnya, Prabowo mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan politik Jokowi. Bahkan, di depan kader partai yang ia dirikan, Prabowo meneriakkan kalimat “Hidup Jokowi” yang disambut dengan yel-yel “Terima kasih Pak Jokowi.”
Politik Merangkul
Direktur Eksekutif Trias Politika Indonesia Agung Baskoro menilai bahwa rangkaian peristiwa dan pernyataan Prabowo terhadap Jokowi menunjukkan pola komunikasi yang konsisten. Prabowo ingin menjaga keharmonisan politik sekaligus menegaskan independensi kekuasaan. “Gaya ini merupakan bentuk politik merangkul, strategi merangkul semua pihak, termasuk yang sebelumnya berseberangan, demi stabilitas dan harmoni politik,” ujarnya.
Menurut Agung, ada pihak-pihak yang berseberangan berusaha membangun opini bahwa Prabowo dan Jokowi tampak berseteru. Tujuannya agar mereka dapat menggantikan pengaruh Jokowi di pemerintahan. Mereka khawatir jika hubungan Prabowo dan Jokowi terlalu dekat, kelompok lain akan kehilangan ruang politik. Apalagi, Prabowo bukan tipe pemimpin yang suka konflik. Sebaliknya, ia berupaya menjaga keseimbangan kekuasaan, terus-menerus menekankan hubungan baiknya dengan Jokowi di depan publik.
Akan tetapi, Agung mengingatkan bahwa hubungan Prabowo dan Jokowi akan diuji menjelang Pemilu 2029. Terlebih jika Prabowo tidak lagi berpasangan dengan Gibran Rakabuming sebagai calon wakil presiden. “Di situlah keharmonisan yang kini tampak hangat akan diuji oleh kepentingan baru,” kata Agung.
Kasino
Olahraga
hohotogel-casino