🔥 Selamat datang di Galaxy Casino — Jelajahi tren terbaru tentang istana-bet-17!
Abstrak
Beban kerja karyawan bisa tinggi ketika tenaga kerja terbatas dan daftar pekerjaan panjang. Penilaian beban kerja dan pengaruhnya terhadap kepuasan kerja dilakukan di Departemen Keberlanjutan dan Operasi sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Beban kerja diukur menggunakan NASA-TLX yang mengukur tuntutan mental, tuntutan fisik, tuntutan temporal, kinerja, usaha, dan frustrasi. Kepuasan kerja diukur menggunakan kuesioner tentang dukungan atasan, bantuan rekan kerja, remunerasi, dan promosi. Hasil penilaian menunjukkan beban kerja karyawan di departemen ini tergolong cukup tinggi. Hal ini disebabkan adanya lembur dan frekuensi perjalanan dinas yang tinggi. Selain itu, terdapat korelasi antara beban kerja dan kepuasan kerja. Ada dua model korelasi, positif dan negatif. Beban kerja tinggi dapat meningkatkan kepuasan kerja, namun sebaliknya dapat menurunkan kepuasan kerja. Untuk mengurangi beban kerja, sistem informasi dan database diusulkan untuk mengurangi kesulitan karyawan dalam mengakses data sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan yang menyebabkan lembur berlebihan. Kata kunci: Kepuasan kerja, NASA-TLX, beban kerja, perbaikan sistem kerja.
Pendahuluan
Setiap departemen memiliki tanggung jawab dan deskripsi pekerjaan masing-masing yang mungkin terkait dengan departemen lain. Pekerjaan di setiap departemen seharusnya memiliki bobot yang berbeda. Secara teoretis, pekerjaan itu sendiri harus dapat diselesaikan oleh karyawan. Beban kerja yang kurang atau berlebihan akan mengakibatkan inefisiensi; beban kerja kurang dapat menjadi indikasi bahwa karyawan tidak memanfaatkan waktu dengan baik atau jumlah karyawan melebihi kebutuhan. Dalam hal ini, perusahaan harus membayar biaya karyawan yang tidak perlu. Sebaliknya, jika ada kekurangan tenaga kerja atau terlalu banyak pekerjaan dengan jumlah karyawan sedikit, hal ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan psikologis bagi karyawan (Noy et al., 2011) dan menjadi tekanan kerja (Astianto, 2014). Kedua kondisi tersebut mengakibatkan karyawan tidak produktif karena terlalu lelah atau bosan. Berdasarkan pengamatan di Departemen Keberlanjutan salah satu perusahaan sebagai studi kasus dalam penelitian ini, beban kerja saat ini tergolong tinggi. Misalnya, tanggung jawab seorang karyawan adalah melakukan deteksi dini dan mencegah kebakaran lahan. Karyawan tersebut telah mengidentifikasi ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk proyek perusahaan dan memantau titik panas di konsesi perusahaan. Departemen Keberlanjutan menugaskan Spesialis Keselamatan untuk hal ini. Karyawan harus menghubungi bagian Keberlanjutan regional atau langsung menghubungi karyawan terkait di setiap perkebunan untuk mengidentifikasi APD. Pada saat yang sama, karyawan juga harus memantau rentang distribusi titik panas dan melaporkannya ke perkebunan jika memerlukan tindak lanjut serta menyelesaikan dokumen laporan untuk perusahaan. Saat ini, karyawan sering datang terlambat dan bekerja pada akhir pekan untuk menyelesaikan pekerjaan. Beban kerja yang tinggi dapat menyebabkan kelelahan, ketidakpuasan kerja, dan potensi kesalahan manusia. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini mencoba menganalisis beban kerja dan kepuasan kerja karyawan sebagai dasar perbaikan sistem kerja di perusahaan untuk mengurangi beban kerja.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penelitian terdiri dari 3 langkah. Langkah pertama adalah pengukuran kepuasan kerja. Kuesioner yang digunakan untuk mengukur menerapkan skala Likert 1-5 di mana 5 mewakili tingkat kepuasan tertinggi karena responden sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Kuesioner ini menilai 5 aspek: remunerasi, promosi/pengakuan, dukungan rekan kerja, dan dukungan atasan (van Saane et al., 2003). Langkah kedua adalah pengukuran beban kerja yang dirasakan menggunakan NASA-TLX, metode subjektif penilaian beban kerja (Hart, 2006). Metode ini umum digunakan karena kesederhanaannya, waktu yang singkat, biaya rendah, dan telah digunakan di banyak sektor (Widyanati & Larutama, 2016; Sunaryo et al, 2011). Metode ini menilai beban kerja dari jenis pekerjaan, bukan beban yang melekat pada pekerja secara individu. NASA-TLX terdiri dari 6 skala yang dianggap sebagai beban kerja yang dialami oleh pekerja atau karyawan. Keenam skala tersebut adalah Tuntutan Mental, Tuntutan Fisik, Tuntutan Temporal, Kinerja, Usaha, dan Frustrasi (Hart, 2006). Penilaian beban kerja menggunakan NASA-TLX dijelaskan sebagai berikut (Hoonaker et al., 2011):
- Pembobotan: Responden dihadapkan pada dua faktor beban kerja dan diminta memilih di antara keduanya. Perbandingan ini adalah perbandingan berpasangan. Responden diminta memilih salah satu kriteria yang paling dominan secara subjektif. Jumlah tally kemudian diakumulasi.
- Pemberian Skor: Responden memberikan skor yang berkaitan dengan tingkat beban kerja yang dialami.
- Hitung Skor Produk: Skor produk diperoleh dari perkalian skor bobot dan rating.
- Hitung Weighted Workload (WWL): WWL diperoleh dari total skor produk.
- Hitung Rata-rata WWL (Skor Beban Kerja): WWL dibagi 15, di mana 15 mewakili jumlah total skor bobot. Pembagian ini menghasilkan skor beban kerja.
- Interpretasi Skor: Skor beban kerja kemudian dibandingkan dengan tabel klasifikasi beban kerja.
Tabel 1 Klasifikasi Beban Kerja
Klasifikasi Beban Kerja | Skor
Rendah | 0-9
Sedang Rendah | 10-29
Sedang Tinggi | 30-49
Tinggi | 50-79
Sangat Tinggi | 80-100
Hasil dan Pembahasan
Responden
Dalam penelitian ini, responden adalah karyawan Departemen Keberlanjutan dan Operasi dengan total 19 karyawan, seperti terlihat pada Tabel 2.
Aspek | Responden | Aspek | Responden
Jenis Kelamin Pria | 16 | Posisi Manajer | 11
Jenis Kelamin Wanita | 3 | Posisi Petugas | 8
Usia (tahun) 25-34 | 12 | Masa Kerja (tahun) <1 | 2
Usia 35-44 | 3 | 1-3 | 4
Usia 45-54 | 3 | 3-5 | 7
Usia >54 | 1 | >5 | 6
Pendidikan Sarjana | 19
Pendidikan Pasca Sarjana | 2
Tingkat Kepuasan Kerja
Langkah pertama penelitian ini adalah mendistribusikan kuesioner kepada responden. Grafik berikut menunjukkan distribusi hasil kepuasan kerja responden: Gambar 1. Hasil Kepuasan Kerja Karyawan Menurut gambar di atas, hampir semua nilai kepuasan kerja karyawan berada di dekat nilai rata-rata. Faktor remunerasi dan dukungan atasan berada di bawah nilai rata-rata. Faktor kepuasan kerja tertinggi menurut grafik adalah bantuan rekan kerja dengan nilai 3,3. Sementara itu, faktor kepuasan kerja terendah adalah dukungan atasan dengan nilai 2,95. Seperti terlihat pada Gambar 1, kepuasan kerja karyawan berada pada tingkat rata-rata (sekitar 3) yang dapat menyebabkan ketidakpuasan dalam jangka panjang.
Penilaian Beban Kerja
Kuesioner selanjutnya adalah NASA-TLX yang digunakan untuk menghitung dan mengklasifikasikan beban kerja yang dialami responden. Responden diminta menilai faktor beban kerja yang mereka rasakan saat ini. Faktor beban kerja terdiri dari enam faktor: tuntutan mental, tuntutan fisik, tuntutan temporal, usaha, kinerja, dan frustrasi. Kuesioner terdiri dari dua lembar yang harus diisi responden. Lembar pertama adalah pemberian skor faktor beban kerja, sedangkan lembar kedua adalah rating yang diberikan. Angka pada lembar kedua akan diakumulasi dan dikalikan untuk mendapatkan skor produk. Kemudian skor produk diakumulasi untuk mendapatkan weighted workload. Rata-rata weighted workload akan diklasifikasikan menurut klasifikasi beban kerja. Tabel berikut menunjukkan rata-rata weighted workload dan klasifikasinya:
Responden | Rata-rata WW | Klasifikasi Beban Kerja | Responden | Rata-rata WW | Klasifikasi Beban Kerja
1 | 51,33 | Tinggi | 11 | 54,67 | Tinggi
2 | 69,33 | Tinggi | 12 | 57,33 | Tinggi
3 | 69,33 | Tinggi | 13 | 63 | Tinggi
4 | 58,67 | Tinggi | 14 | 54 | Tinggi
5 | 58 | Tinggi | 15 | 75,33 | Tinggi
6 | 61,33 | Tinggi | 16 | 51,33 | Tinggi
7 | 59,33 | Tinggi | 17 | 45,33 | Sedang Tinggi
8 | 65 | Tinggi | 18 | 45,33 | Sedang Tinggi
9 | 60,33 | Tinggi | 19 | 76 | Tinggi
10 | 53,33 | Tinggi
Berdasarkan Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 89,47% responden saat ini mengalami beban kerja tinggi. Sementara itu, sisanya mengalami beban kerja sedang-tinggi dengan persentase 10,52%. Menurut hasil tersebut, kepuasan kerja responden rendah, sementara beban kerja tergolong tinggi. Jika kedua hal ini tidak dikendalikan, maka dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam bekerja. Berdasarkan latar belakang ini, akar penyebab harus didefinisikan sehingga solusi yang tepat dapat dihasilkan. Untuk menemukan akar penyebab, faktor-faktor yang menyebabkan masalah ini harus didefinisikan terlebih dahulu. Langkah pertama adalah melakukan uji korelasi. Uji korelasi bertujuan untuk menghitung korelasi antar variabel, untuk mengetahui apakah mereka memiliki korelasi atau tidak dan apakah kuat atau lemah. Empat faktor kepuasan kerja akan diuji dengan uji korelasi terhadap enam faktor beban kerja. Uji korelasi dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS dengan tingkat kepercayaan 95% (Tabel 4).
Faktor Uji | Korelasi (R)
Pekerjaan – Bantuan Rekan Kerja | 0,330
Pekerjaan – Dukungan Atasan | 0,309
Mental – Bantuan Rekan Kerja | -0,317
Mental – Promosi | -0,351
Temporal – Dukungan Atasan | -0,371
Mental – Dukungan Atasan | -0,379
Seperti terlihat pada Tabel 4, dapat disimpulkan bahwa ada enam faktor yang memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi atau dipengaruhi. Ada beberapa faktor yang memiliki korelasi positif, sementara yang lain memiliki korelasi negatif. Faktor pertama yang memiliki korelasi positif adalah faktor pekerjaan dengan bantuan rekan kerja dengan nilai r 0,330. Selanjutnya adalah faktor pekerjaan dengan dukungan atasan dengan nilai r 0,309. Sementara itu, faktor yang memiliki korelasi negatif adalah faktor mental dengan bantuan rekan kerja dengan nilai r -0,371, dan faktor mental dengan faktor promosi dengan tingkat signifikansi -0,351. Kemudian, faktor temporal dengan dukungan atasan dengan nilai r -0,371. Faktor yang memiliki korelasi negatif adalah faktor mental dengan dukungan atasan dengan nilai r -0,379.
Perbaikan Sistem Kerja
Penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hubungan antara beban kerja dan kepuasan kerja. Faktor-faktor yang memiliki hubungan proporsional diwakili oleh korelasi positif, sedangkan faktor-faktor yang memiliki hubungan terbalik diwakili oleh korelasi negatif. Kepuasan kerja yang rendah akan menurunkan kinerja kerja mereka. Beban kerja karyawan menurut kuesioner menghasilkan dua kategori, sedang-tinggi dan tinggi, dan mempengaruhi kepuasan kerja mereka. Beban kerja yang terlalu tinggi perlu diamati sehingga solusi dapat didefinisikan. Untuk menemukan akar penyebab masalah, diagram tulang ikan atau diagram sebab-akibat digunakan. Diagram ini diharapkan dapat membantu menghasilkan solusi untuk mengurangi beban kerja yang dialami karyawan. Gambar 2. Diagram Tulang Ikan Pembahasan di atas menjelaskan akar penyebab beban kerja tinggi yang dirasakan karyawan. Namun, untuk hasil yang lebih optimal, penelitian ini akan fokus pada pemecahan masalah dengan prioritas tertinggi. Untuk memutuskan faktor mana yang menyebabkan masalah secara signifikan, digunakan prinsip diagram Pareto: Gambar 3. Diagram Pareto berdasarkan hasil penilaian beban kerja Menurut diagram Pareto di atas, usulan perbaikan sistem kerja akan difokuskan pada faktor pekerjaan. Pada analisis diagram tulang ikan seperti yang ditunjukkan pada gambar, salah satu akar penyebab utama persepsi beban kerja tinggi pada faktor pekerjaan adalah kesulitan mengakses data yang dibutuhkan karena departemen tidak terintegrasi satu sama lain. Perbaikan sistem kerja yang diusulkan dalam penelitian ini adalah urgensi untuk menginstal sistem database terintegrasi. Data harus disimpan bersama dalam penyimpanan yang sama dan dikelola oleh operator tertentu, sehingga siapa pun yang membutuhkan dapat meminta kepada operator sistem database terintegrasi. Diagram alur sistem kerja yang diusulkan ditunjukkan berikut: Gambar 4. Diagram alur pengumpulan data awal dan permintaan data untuk sistem database terintegrasi
Kesimpulan
Ada korelasi antara kepuasan kerja karyawan dengan beban kerja mereka berdasarkan bagaimana beban tersebut dirasakan oleh karyawan. Meskipun nilai korelasinya tidak tinggi, hasil ini menunjukkan bahwa beban kerja yang wajar dapat meningkatkan kepuasan kerja. Beban kerja sebagian besar disebabkan oleh pekerjaan administrasi dan komunikasi dalam mengumpulkan data, oleh karena itu sistem database diusulkan untuk mengurangi beban kerja. Diharapkan sistem ini dapat meningkatkan kepuasan karyawan.
Kasino
Olahraga
aon338-bet