🔥 Selamat datang di Halusbet77 — Jelajahi tren terbaru tentang app-casino!
Bedah Buku “Mimpi Tentang Indonesia”: Kaum Muda Memupuk Optimisme Bangsa
17/10/2023
Kegiatan diskusi publik dengan tema “Potret Masa Depan Indonesia: Bedah Buku Mimpi Tentang Indonesia” karya Budiman Tanuredjo digelar melalui Zoom pada Jumat, 13 Oktober 2023. Diskusi ini dipandu oleh Premita Fifi, dengan menghadirkan Budiman Tanuredjo sebagai narasumber pertama. Hadir pula Abby Gina sebagai narasumber kedua dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat selaku pemandu diskusi.
Budiman Tanuredjo sebagai narasumber pertama sekaligus penulis buku Mimpi Tentang Indonesia memaparkan secara garis besar isi buku tersebut. Buku ini merupakan kumpulan hasil wawancaranya terhadap 21 tokoh bangsa dari berbagai latar belakang. Sebagai seorang jurnalis, Budiman tentunya mempunyai banyak pengalaman di dunia jurnalistik. Ia bertemu dengan banyak orang, mulai dari masyarakat marginal, akademisi, politikus, dan lain sebagainya. Pertemuannya dengan mereka merupakan suatu pengalaman penting yang menghantarkannya berefleksi tentang mimpi Indonesia di masa depan. Hasil refleksi tersebut kemudian dibentuk dalam tulisan yang menyerupai buku Mimpi Tentang Indonesia.
Awal terbitnya buku ini diinspirasi dan didorong oleh Sukidi, seorang alumni Harvard University, Amerika Serikat, yang juga mempunyai mimpi tentang Indonesia. “Negara impian Indonesia,” tutur Budiman.
Wawancaranya dengan 21 tokoh bangsa dari berbagai latar belakang tersebut bertujuan untuk membedah problem fundamental seperti feodalisme, korupsi, dan persoalan lainnya yang belum selesai menjelang 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045. Dalam konteks mimpi-mimpi tentang Indonesia, mengidentifikasi masalah bangsa merupakan suatu langkah yang penting dan proses penyelesaiannya tentu punya caranya masing-masing. Oleh karena itu, diskursus politik menjelang Pemilu 2024 menjadi sangat penting.
Selanjutnya, Abby Gina sebagai narasumber kedua menyampaikan beberapa poin mengenai pembacaan dan temuannya dalam buku Mimpi Tentang Indonesia. Menurutnya, buku ini lahir dari kegelisahan penulis terhadap kondisi Indonesia saat ini. Buku ini begitu relevan karena bersentuhan langsung dengan pengalaman keseharian masyarakat.
Berangkat dari kisah 21 tokoh bangsa yang telah diwawancarai oleh Budiman, Abby Gina menyoroti problem Indonesia yang penting untuk terus dibahas, seperti kemiskinan. “Kemiskinan adalah wajah kaum marginal, dan wajah kaum marginal identik dengan wajah kaum perempuan,” tutur Abby.
Untuk menekan angka kemiskinan di negara ini, perlu dilakukan investasi pendidikan yang berperspektif gender dan menyasar anak-anak muda. Abby, sebagai seorang feminis dan pemikir muda di Indonesia, mengkritisi bahwa dari kisah 21 tokoh bangsa yang ada dalam buku karya Budiman tersebut, didominasi oleh pemikiran kaum laki-laki. Untuk itu, Abby berharap partisipasi perempuan lebih diungkap dalam buku atau wawancara berikutnya.
Kemudian, kesempatan berikutnya diberikan kepada Sukidi Mulyadi untuk menyampaikan tanggapannya atas terbitnya buku Mimpi Tentang Indonesia. Menurutnya, buku tersebut merupakan karya yang luar biasa dan sangat menarik. “Ini adalah warisan tradisi jurnalisme Pak Jakob Oetama. Salah satu ciri dari tradisi tersebut adalah jurnalisme yang didedikasikan untuk Indonesia, yang diimpikan oleh para pendidik republik ini. Itu sebabnya, tulisan di dalamnya selalu bergulat dalam kegelisahan,” pungkas Sukidi. Dalam tulisannya, Budiman secara tidak langsung ingin bahwa jurnalisme itu punya daya pengaruh yang besar terhadap pengambilan keputusan dalam konteks bangsa ini.
Prof. Dr. Komaruddin selaku pemandu diskusi menyampaikan beberapa hal penting terkait pembacaannya terhadap buku Mimpi Tentang Indonesia. Komaruddin mengapresiasi Budiman yang mampu berjarak sekaligus terlibat dalam isu fundamental bangsa.
Diskusi bedah buku Mimpi Tentang Indonesia kemudian berakhir dengan pernyataan penutup dari Budiman Tanuredjo selaku penulis, “Saya menulis buku ini karena kegelisahan saya kepada republik dan juga kecintaan saya pada republik. Jadi, saya sangat terobsesi dengan gaya jurnalis Pak Jakob yang selalu menjadi teman ngobrol saya di pagi hari. Dia menyampaikan pesan-pesan yang bagi saya sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini,” pungkas Budiman.
Diskusi ini mengajak kita untuk bersama-sama menatap Indonesia dengan lebih optimis. Kaum muda Indonesia hendaknya membangun semangat dan kesadaran kolektif untuk mendukung Indonesia yang maju dan berkeadilan gender di tahun 2045. Sebab, kemajuan bangsa tanpa keadilan gender hanya akan menjadi justifikasi untuk melanggengkan subordinasi perempuan dan kelompok marginal.
Kasino
Olahraga
fastest-paying-online-casino