🔥 Selamat datang di Past Simple Bet — Jelajahi tren terbaru tentang betting-fellow!
Pasar Baru: Pusat Perbelanjaan Bersejarah di Jakarta
Dibangun khusus oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan belanja para elite Eropa dan Belanda di Batavia, Pasar Baru — atau Passer Baroe, demikian sebutannya saat itu — menjadi tempat meleburnya berbagai komunitas dan etnis, mulai dari Tionghoa, India, Eropa, bahkan Melayu. Dianggap sebagai pusat perbelanjaan tertua di kota ini, Pasar Baru tetap memancarkan pesona lama, dengan fasad bersejarah dari toko-toko yang sudah berdiri lama menghiasi jalan-jalan.
Meskipun sedikit ironis saat ini, Pasar Baru berarti 'pasar baru' dan dibangun pada tahun 1820. Perkembangannya mengikuti migrasi besar-besaran pemerintahan pusat oleh Gubernur Jenderal Herman Daendels (1801-1811), yang memindahkan pusat kekuasaan dari Oud Batavia (Batavia Lama atau Kota Tua) ke Weltevreden, atau yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Banteng dan Gambir.
Saat ini ada dua pasar yang lebih tua di Jakarta, yaitu Pasar Senen yang dibuka tahun 1733 di Weltevreden, dan Pasar Tanah Abang yang dibuka tahun 1735. Keduanya juga pasar buatan Belanda, dibuat oleh arsitek Yustinus Vinck, tetapi dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas bawah.
Sebelumnya, kawasan RijswijkStraat (sekarang Jalan Veteran) adalah sawah (rijswijk berarti padi) yang kemudian dikembangkan menjadi kawasan elite bagian dari Weltevreden. Selain Jalan Veteran, pembangunan kawasan juga terjadi di Noordwijk Straat (sekarang Jalan Juanda), hingga Jalan Majapahit dan Harmoni di mana banyak toko kelontong milik Prancis didirikan. Toko-toko ini memenuhi kebutuhan belanja orang Eropa kaya yang menghindari Pasar Senen, sementara Pasar Tanah Abang terlalu jauh.
Pada saat itu, jumlah warga Eropa dan Belanda semakin banyak datang ke Batavia dan menetap di sekitar kawasan ini. Setelah masa Daendels, Pasar Baru dibuka di mana orang Belanda dan Eropa dapat dengan nyaman berjalan-jalan di sepanjang boulevard dan bebas keluar-masuk toko. Maka pasar tersebut diberi nama Pasar Baru.
Pengaruh India dan Komunitas Pedagang
Pada tahun 1920-an, jalan utama Pasar Baru didominasi oleh toko-toko bergaya Tionghoa dan Eropa, dan bagian depan jalan dipenuhi mobil. Sado, kereta kuda roda dua, perlahan mulai menghilang. Namun, perubahan paling signifikan adalah kedatangan pedagang India: orang India Punjab, Sindh, dan Tamilnadhu datang ke Batavia dari Medan dan mulai berdagang di Pasar Baru. Mereka kebanyakan menjual tekstil dan perlengkapan olahraga, dan mereka terus mendominasi boulevard hingga hari ini. Hariom's Tailor dan Lakhmi Mahtani adalah dua usaha yang telah berjalan sejak sekitar tahun 1930-an. Dengan demikian, Pasar Baru dikenal sebagai India kecil di Jakarta, suasana yang tentu terasa saat berjalan di jalan pasar pusat. Ini diresmikan pada 10 Oktober 2022 ketika sebuah gerbang masuk 'Little India' dibangun di seberang stasiun kereta Juanda.
Bangunan Bersejarah di Pasar Baru
Meskipun mengadopsi identitas penduduk barunya, kawasan Pasar Baru menampilkan beragam bangunan eklektik. Sayangnya, banyak toko kosong dan tidak terawat, tetapi masih akan ditemukan beberapa permata bersejarah. Misalnya, department store pertama di Hindia Belanda, bernama Toko Tio Tek Hong, didirikan pada tahun 1902, terletak di Jalan Pintu Air Raya, kini diubah menjadi pusat jajanan. Dari toko ini, Anda dapat mengikuti jalan menuju Kanal Ciliwung Pasar Baru yang dibangun pada tahun 1821. Di kanal ini terdapat Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara (Jalan Antara No.59), yang dioperasikan oleh lembaga berita nasional (LKBN) Antara. Didirikan pada tahun 1937 oleh empat jurnalis – Adam Malik, A.M. Sipahoetar, Soemanang, dan Pandoe Kartawigoena – Antara telah memainkan peran besar dalam menghidupkan kembali kehidupan pers Indonesia, terutama bagi jurnalis foto. Galeri ini didirikan pada tahun 1992 dan menyelenggarakan pameran fotografi reguler yang terbuka untuk umum.
Tidak jauh dari galeri, akan ditemukan gerbang utama terkenal Pasar Baru, yang menampilkan gaya arsitektur yang menarik, dengan struktur atap Tionghoa. Ini menandai awal dari arkade yang dipenuhi toko tekstil, toko olahraga, dan tempat makan kecil—jalan yang dulunya dilalui oleh noni-noni Belanda seabad yang lalu! Di arkade terdapat beberapa landmark hebat, seperti Lee Ie Seng, sebuah toko kelontong yang dibangun tahun 1873 dan masih beroperasi hingga saat ini. Lainnya adalah Toko Kompak, bekas kediaman Tio Tek Ho, Majoor der Chinezen (1896-1908), pemimpin komunitas Tionghoa Batavia. Meskipun sekarang tutup dan terbengkalai, diyakini dibangun pada paruh pertama abad ke-19, dengan gaya arsitektur Tionghoa, Eropa, dan Nusantara. Pada akhir era kolonial, bangunan ini dijual dan diubah menjadi toko komersial, dengan nama Sin Siong Bouw. Setelah kemerdekaan tahun 1945, nama toko diubah menjadi Kompak.
Baik Tio Tek Hong maupun Toko Kompak ditetapkan sebagai dua dari empat bangunan cagar budaya di Jakarta oleh Gubernur Anies Baswedan pada Maret 2022. Bangunan lain yang ditetapkan sebagai cagar budaya adalah Klenteng Sin Tek Bio atau biara Dharma Jaya yang tersembunyi di Gang Kelinci, Pasar Baru. Biara yang didirikan pada tahun 1698 ini masih ada meskipun semakin terpinggirkan di kawasan perdagangan. Bangunan lainnya terdapat di Senen, yaitu Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dibangun tahun 1911-1914 dengan gaya arsitektur Nieuwe Kunst, yang memainkan peran penting dalam penelitian ilmiah penyakit tropis. Selain Sin Tek Bio, jika Anda mengambil sisi kiri dari pintu masuk utara, Anda akan menemukan tempat ibadah komunitas India, salah satunya adalah Kuil Sikh.
Suasana dan Kuliner Legendaris
Pasar Baru juga menggambarkan tata ruang sebagian besar kota tua di Jawa: berdasarkan filosofinya, seperti memiliki alun-alun, dengan istana di selatan, tempat ibadah di barat, dan pasar di timur. Pasar Baru adalah gambaran komunitas yang bersatu, di mana terdapat sirkulasi ekonomi dan bangunan ibadah sebagai cerminan spiritualitas komunitas. Hingga tahun 1970-an, Pasar Baru menjadi tujuan hampir semua warga Jakarta untuk membeli tekstil, sepatu, peralatan olahraga, dan kebutuhan sekunder lainnya. Namun, dengan kebijakan Pemerintah Ali Sadikin untuk membangun pusat perbelanjaan di lima kotamadya ibu kota, secara bertahap Pasar Baru tidak lagi menjadi tujuan utama bagi masyarakat menengah dan atas. Namun Pasar Baru tidak kehilangan pesonanya, terutama bagi mereka yang ingin menikmati suasana bersejarah. Dua tempat makan legendaris patut dikunjungi, termasuk Bakmi Gang Kelinci serta toko es krim berusia puluhan tahun yang dikenal dengan Tropic Ice Cream.
Wisata Sekitar Pasar Baru
Pasar Baru juga dikelilingi oleh bangunan bersejarah dan objek wisata lainnya. Di seberang gerbang utama, Anda akan menemukan Pos Bloc, yang telah dibuka untuk umum sejak awal September 2021. Pusat kreatif bagi warga Jakarta ini menempati Gedung Filateli Jakarta atau bekas Gedung Kantor Pos Pasar Baru, kantor pos pertama yang didirikan oleh VOC di Batavia pada 26 Agustus 1746. Saat ini telah direnovasi, masih dengan fasad yang indah namun kini diisi dengan berbagai usaha kecil menengah, termasuk restoran, kafe, toko eklektik, dan lainnya. Di dekatnya ada peninggalan kolonial lainnya, Gedung Kesenian Jakarta yang awalnya dibangun pada Desember 1821 dengan nama Schouwburg Weltevreden atau Comidiegebouw. Bangunan bergaya Romawi berdiri megah hingga saat ini dan menjadi salah satu pusat penyelenggaraan acara budaya dan seni pertunjukan pribadi.
Namun seni juga hadir di jalan-jalan Pasar Baru. Di seberang Gedung Kesenian Jakarta terdapat 'Sentra Lukisan', di mana seniman jalanan berjejer di trotoar memamerkan kreasi warna-warni mereka di atas kanvas. Seni mereka bervariasi dari karikatur lucu selebriti, tokoh masyarakat, dan politisi, hingga lukisan potret dan lanskap pesanan. Anda dapat memesan lukisan khusus di sini untuk diri sendiri atau sebagai hadiah. Sekitar 500 meter dari kawasan ini, sekitar tujuh menit berjalan kaki, terdapat Masjid Istiqlal yang dapat menampung lebih dari 200.000 jamaah. Selain sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid ini juga sering digunakan untuk kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia dan kegiatan sosial, termasuk objek wisata. Di seberang Istiqlal, berjalan kaki tiga menit menuju Gereja Katedral Jakarta. Gereja Katolik yang indah ini telah dibangun sejak tahun 1810. Dibangun dengan gaya neo-gotik, Anda dapat beribadah dan melihat patung Kristus Raja dan Gua Maria di Katedral. Pasar Baru dipenuhi jiwa, baik baru maupun lama, dan meskipun penampilannya agak tidak terawat, tempat ini menjadi ajang jalan-jalan yang menarik bagi setiap penjelajah perkotaan.
Kasino
Olahraga
888-casino-promo