🔥 Selamat datang di Pemasangan Bet — Jelajahi tren terbaru tentang winx-stakes-bet!
Abstrak
Konsep kimia yang bersifat abstrak seperti pereaksi pembatas memerlukan media yang mampu memvisualisasikan konsep abstrak tersebut menjadi lebih konkrit. Pembelajaran kimia secara konseptual dengan mengaitkan karakter religius dan kearifan lokal membantu siswa memahami konsep kimia secara nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik terintegrasi lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment). Penelitian ini menggunakan metode The Static Group Comparison Design (TSGCD). Data penelitian dikumpulkan melalui tes dengan instrumen soal tes pilihan ganda. Analisis data menggunakan uji Mann Whitney U test berbantuan SPSS v.26. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik pada sub materi Pereaksi Pembatas. Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian dapat membantu siswa dalam mempelajari kimia secara kontekstual dan memahami konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkrit.
Kata kunci: Media slot and ball, Hasil belajar, Materi pereaksi pembatas, Nilai Keislaman, Kearifan Lokal.
Pendahuluan
Dalam kajian ilmu pengetahuan alam (IPA), ilmu kimia adalah satu cabang yang mengkaji aspek-aspek seperti struktur, komposisi, sifat, dan perubahan materi (Putri & Elvia, 2021). Kean dan Middlecamp (1985) mengatakan bahwa ilmu kimia mempunyai karakteristik yang sebagian besar konsep-konsep di dalam ilmu kimia bersifat abstrak, di dalam ilmu kimia konsep-konsepnya saling berkaitan. Di dalam pembelajaran kimia ada tiga level representasi yaitu pada tingkat makroskopis, sub-makroskopis, dan simbolik. Karakteristik ilmu kimia makroskopis atau nyata, sub mikroskopis bersifat abstrak seperti atom, ion, molekul, dan struktur, serta simbolik seperti persamaan dan rumus-rumus (Wahyudi & Fitriani, 2021). Dalam pembelajaran kimia unsur-unsur serta objek bahkan reaksi-reaksi yang terjadi di dalamnya dapat ditemui di alam bahkan di makhluk hidup. Pada pembelajaran konseptual, pembelajaran kimia mengintegrasi materi di dalamnya dengan sumber daya dan potensi alam terkhususnya di Kalimantan Selatan. Pembelajaran kimia juga mengintegrasi nilai keislaman sehingga dapat memunculkan karakter religius siswa, sehingga dapat mendorong siswa dalam mengagungkan kebesaran Tuhan YME dan dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu juga karakteristik ilmu kimia tersebut terdapat informasi yang saling terikat, beberapa materi kimia juga bersifat konseptual dan matematis, materi yang matematis yang di dalamnya terdapat pemahaman tentang rumus-rumus kimia, persamaan dan reaksi, serta konsep adalah materi stoikiometri pada sub materi pereaksi pembatas.
Materi pereaksi pembatas merupakan bagian integral dari stoikiometri dan disampaikan dalam kurikulum Merdeka Belajar pada sub materi pereaksi pembatas di kelas X semester genap. Menurut Polamolo & Lukum (2022), materi ini merujuk pada campuran zat pereaksi di mana salah satunya habis bereaksi lebih dulu, membatasi hasil reaksi. Artinya, dalam suatu reaksi, salah satu zat pereaksi akan habis terlebih dahulu, sementara zat pereaksi lainnya akan tersisa, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut. Untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam terkait konsep pada materi pereaksi pembatas, keterkaitannya dapat dijelaskan melalui penghubungan dengan konsep mol, persamaan reaksi, dan rumus kimia. Materi pereaksi pembatas tidak cocok jika diajarkan dengan menggunakan metode ceramah saja atau hanya melihat video pembelajaran saja karena materi pereaksi pembatas bersifat abstrak, maka diperlukan keterampilan berpikir kritis untuk dapat memahaminya (Valentine & Fatah, 2020).
Tentunya dalam hal ini pemahaman peserta didik pada materi pereaksi pembatas tergolong kurang dikarenakan belum dapat menentukan mana zat yang menjadi pereaksi pembatas dan mana zat yang tersisa di dalam reaksi tersebut. Seperti yang terjadi di SMAN 1 Tabunganen berdasarkan hasil wawancara bersama guru kimia didapatkan informasi bahwa kurangnya ketuntasan pada materi pereaksi pembatas selama 3 tahun terakhir hanya 50%. Disebabkan karena kurangnya media pada kegiatan pembelajaran kimia serta metode yang digunakan berupa ceramah dan tanya jawab. Fenomena yang umum terjadi adalah ketika peserta didik lebih fokus pada pemecahan soal-soal matematis tanpa benar-benar memahami makna yang sebenarnya dari konsep atau materi yang dipelajari. Dalam situasi ini, peserta didik mungkin bisa menyelesaikan soal-soal secara mekanis atau mengikuti langkah-langkah tertentu tanpa memiliki pemahaman mendalam tentang konsep yang mendasarinya. Akibatnya, mereka mungkin dapat menghasilkan jawaban yang benar secara formal, namun tanpa kejelasan dalam memahami konsep atau aplikasi nyata dari solusi matematis yang dihasilkan. Hal ini dapat mengakibatkan pemahaman yang dangkal dan rentan terhadap kesulitan dalam mengaitkan konsep matematis dengan situasi dunia nyata atau penerapannya dalam konteks masalah yang lebih luas.
Oleh karena itu, penting bagi peserta didik untuk tidak hanya fokus pada penyelesaian mekanis soal matematis, tetapi juga untuk mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang kuat terhadap konsep matematis akan memungkinkan peserta didik untuk lebih siap dalam menghadapi berbagai jenis soal dengan lebih efektif dalam konteks kehidupan sehari-hari. Maksudnya peserta didik hanya fokus menyelesaikan soal matematis saja tanpa memahami betul proses terjadinya reaksi secara kuantitatif. Penting bagi peserta didik untuk tidak fokus pada aspek matematis dalam pemecahan soal-soal kimia, tetapi juga dalam mengembangkan pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep kimia yang mendasarinya. Tentunya hal ini akan membantu peserta didik mengaitkan pemahaman matematis dengan konsep-konsep kimia sehingga memungkinkan mereka mengaplikasikan pengetahuan mereka dengan lebih baik. Pada materi pereaksi pembatas peserta didik kurang menguasai konsep-konsep pereaksi pembatas, serta masalah matematis seperti perhitungan mol, dan untuk menyamakan reaksi. Tentunya siswa harus dapat menguasai materi pereaksi pembatas dikarenakan materi pereaksi pembatas merupakan materi prasyarat atau fondasi yang harus dimiliki siswa sebelum siswa mempelajari materi yang lebih kompleks.
Dalam konteks proses belajar mengajar, tujuan akhirnya adalah mencapai hasil belajar yang dapat dijadikan sebagai penilaian terhadap pencapaian peserta didik dalam pembelajaran. Hasil belajar tersebut seharusnya mencerminkan suatu perubahan pada tingkah laku peserta didik, misalnya dari tingkat pengetahuan yang rendah menjadi tinggi, atau dari tingkat pemahaman yang minim menjadi lebih baik. Penting untuk diingat bahwa hasil belajar yang diinginkan seharusnya bukan hanya sifatnya sementara, tetapi juga memiliki karakteristik positif yang dapat disadari oleh peserta didik. Contoh perubahan yang diharapkan termasuk peningkatan pengetahuan atau pemahaman peserta didik, seperti peralihan dari ketidakpahaman menjadi pemahaman yang lebih baik. Hasil belajar yang diinginkan juga seharusnya bersifat menetap, artinya peserta didik dapat mempertahankan pengetahuan dan pemahamannya dalam jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, penting bahwa peserta didik secara sadar menyadari perubahan positif yang terjadi pada diri mereka, sehingga hasil belajar tidak hanya terukur dari segi kuantitatif tetapi juga berkualitas dalam perkembangan pribadi dan akademis.
Agar tercapainya tujuan pembelajaran pada materi pereaksi pembatas, maka diperlukan media yang dapat memudahkan siswa untuk mempelajari dan memahami konsep materi pereaksi pembatas. Salah satu media yang dapat digunakan seperti media slot and ball, slot and ball adalah media yang menyediakan slot kosong yang nantinya akan diisi oleh kartu senyawa kimia dan angka-angka, sedangkan untuk bola-bolanya nanti digunakan sebagai visualisasi jumlah mol yang terlibat dalam reaksi. Dengan adanya media slot and ball siswa dapat belajar materi pereaksi pembatas dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan serta diharapkan motivasi belajar siswa meningkat sehingga akan berdampak ke hasil belajar siswa. Media slot and ball juga dibantu dengan lembar kerja peserta didik yang di dalam lembar kerja peserta didik terdapat materi, soal-soal latihan serta langkah-langkah dalam menggunakan media slot and ball. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul "Penggunaan Media Slot and Ball Berbantuan Lembar Kerja Peserta Didik Terintegrasi Lahan Rawa dan Nilai Keislaman Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Sub Materi Pereaksi Pembatas".
Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat kuantitatif dan termasuk dalam kategori eksperimen semu (Quasi Experiment). Metode yang diterapkan adalah Desain Pembanding Kelompok Statis (The Static Group Comparison Design - TSGCD). Baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol hanya menjalani satu kali tes, yakni posttest. Subyek penelitian melibatkan siswa kelas X di SMA N 1 Tabunganen, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik cluster. Sampel terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, dan instrumen yang digunakan adalah soal pilihan ganda sebanyak 10 soal. Validasi instrumen dilakukan oleh satu dosen pendidikan kimia dan dua guru kimia. Analisis data hasil belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan uji Mann-Whitney dan menggunakan program SPSS v.26.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian dilaksanakan di SMA N 1 Tabunganen di kelas X, yang terdiri dari kelas eksperimen yang berjumlah 28 orang siswa dan di kelas kontrol dengan 28 orang siswa. Kegiatan pembelajaran dilakukan 3 kali pertemuan termasuk kegiatan posttest. Terdiri dari 9 jam pelajaran dengan 1 kali pertemuan 3 JP, dimana 1 jam pelajaran sama dengan 40 menit. Media yang digunakan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda, yaitu di kelas eksperimen menggunakan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik terintegrasi lahan rawa dan nilai keislaman, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan buku paket kimia kelas X. Namun, untuk instrumen serta soal yang digunakan adalah sama. Kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen menggunakan metode diskusi dan tanya jawab, dengan model pembelajaran direct instruction, dengan pendekatan induktif. Instrumen pada penelitian ini menggunakan soal pilihan ganda berjumlah 10 soal yang telah divalidasi oleh 1 orang dosen pendidikan kimia dan 2 orang guru kimia. Hasil rekapitulasi hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Skor rata-rata nilai postes
Gambar 1 menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran dengan media slot and ball serta menggunakan lembar kerja peserta didik dapat mencapai prestasi yang lebih unggul daripada kelas kontrol. Data visual pada Gambar 1 menunjukkan bahwa kelas eksperimen mencapai nilai rata-rata sebesar 79,64, sementara kelas kontrol mencatat nilai rata-rata sebesar 70,35. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik terintegrasi lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas, maka dilakukan uji statistik. Uji statistik digunakan untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa "Ada perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media slot and ball dengan dukungan lembar kerja peserta didik yang terintegrasi dengan konsep lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas". Sebelum melaksanakan uji hipotesis, dilakukan menggunakan Mann Whitney U-test.
Nilai Postes
Mann-Whitney U | 184,000
Wilcoxon W | 590,000
Z | -3,638
Asymp. Sig. (2-tailed) |,000
Gambar 2. Uji Mann Whitney U test
Dari tabel statistik uji Mann-Whitney U-test, diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Nilai ini < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Dengan demikian, dapat diungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar siswa ketika menggunakan media slot and ball dengan dukungan lembar kerja peserta didik yang terintegrasi dengan konsep lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas. Pemanfaatan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik yang terintegrasi dengan konsep lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dalam pencapaian hasil belajar siswa. Media slot and ball dengan dukungan lembar kerja peserta didik dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep materi pereaksi pembatas. Dengan adanya lembar kerja peserta didik dan media slot and ball, siswa diberikan kesempatan untuk aktif dalam proses pembelajaran, memungkinkan mereka untuk mempelajari sub materi pereaksi pembatas dengan cara yang berbeda dan lebih menyenangkan. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kimia dan berdampak positif terhadap hasil belajar mereka. LKPD yang disusun dengan tingkat kesulitan soalnya dimulai dari tingkat yang mudah ke yang sulit secara bertahap tentunya dapat memberikan kemudahan untuk siswa secara perlahan belajar dan memahami materi pereaksi pembatas. Seperti pada LKPD pertemuan pertama mula-mula siswa mengerjakan soal yang mana persamaan reaksi sudah setara dan jumlah mol diketahui, setelah siswa mulai mencari jumlah mol yang belum diketahui, menyetarakan reaksi. Pada pertemuan kedua siswa sudah mulai mengerjakan soal yang tingkat kesulitannya lebih tinggi, siswa mulai mencari jumlah partikel, volume yang terbentuk, dan mencari massa yang tersisa.
Dengan adanya media slot and ball yang di dalamnya terdapat kartu-kartu senyawa serta angka-angka yang berkaitan dengan soal yang ada di LKPD tentunya dapat memberikan gambaran kepada siswa dalam menyelesaikan soal pereaksi pembatas dan memahami konsep pereaksi pembatas. Siswa bisa mempraktikkan dengan sendiri langkah-langkah dalam mencari pereaksi pembatas. Siswa dapat dengan sendiri belajar menyusun senyawa yang bereaksi, menyetarakan reaksi dengan memasukkan kartu-kartu senyawa dan angka ke dalam slot yang telah disediakan. Dan bola-bola yang terdapat pada media slot and ball memberikan visualisasi jumlah mol untuk melihat zat reaktan yang tepat sebagai pereaksi pembatas. Menurut Kustandi dan Sutjipto (2011), "Media pembelajaran berperan sebagai alat pendukung proses pembelajaran, membantu menjelaskan makna dan pesan yang disampaikan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai lebih baik dan sempurna." Prastowo (2011) juga menyatakan bahwa "LKPD adalah materi ajar berbentuk cetakan yang berisi lembaran-lembaran yang tersusun secara berurutan, berisi ringkasan dan panduan pelaksanaan pembelajaran dengan tujuan memberikan panduan kepada siswa dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran dan merangsang keterlibatan aktif siswa."
Adanya perbedaan hasil belajar siswa pada perbedaan prestasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol juga dipicu oleh adanya repetisi soal materi pereaksi pembatas secara bertahap dan kontinu, memudahkan siswa untuk mengingat materi dengan baik. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Sardiman (2001), yang menyatakan bahwa untuk mengatasi lupa, kegiatan ulangan memiliki peran penting. Tindakan mengulangi, meninjau, dan mempelajari kembali materi yang telah diajarkan memiliki potensi yang signifikan dalam meningkatkan daya ingat terhadap materi pelajaran. Menguasai materi oleh siswa bukanlah proses yang dapat tercapai dengan cepat. Pentingnya siswa melakukan pengulangan materi bertujuan agar mereka dapat dengan mudah mengingat materi pembelajaran. Munirah (2018) menyoroti prinsip pengulangan dalam pembelajaran, meskipun tujuan pengulangan tersebut berbeda. Pengulangan memiliki manfaat dalam melatih kemampuan, membentuk respons yang tepat, dan mengatasi lupa. Selain dari aspek pengulangan yang dapat meningkatkan daya ingat siswa, keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran juga memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar, yang pada gilirannya membentuk pencapaian belajar yang baik. Diperlukan penggunaan media pembelajaran yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar agar siswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Ma'rifah & Qohar (2020), peran media dalam proses belajar-mengajar diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan pemahaman siswa, sehingga siswa dapat terlibat lebih aktif dan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, optimalisasi penggunaan media dalam pembelajaran juga dapat mendorong pencapaian hasil belajar yang optimal.
Agar ketercapaian hasil belajar yang baik tentunya selain dengan pengulangan pada materi pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran, juga pemberian afirmasi positif kepada siswa juga dapat memberikan penguatan di dalam diri siswa itu sendiri. Menurut Wahiddah & Julia (2022), pemberian afirmasi positif membantu siswa dapat menyelesaikan kesulitan serta hambatan yang dialami, selain itu pemberian afirmasi positif juga tidak hanya meningkatkan semangat siswa dalam kesulitan dalam belajar juga dapat memberikan evaluasi bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Selain memberikan afirmasi positif, penggunaan representasi kimia juga mendukung siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep kimia. Dengan meningkatnya pemahaman siswa terhadap materi kimia, hal ini berdampak pada pencapaian hasil belajar yang optimal. Siswa cenderung lebih mudah memahami materi yang dapat diamati secara langsung. Menurut Hendrawani & Subandi (2020), "representasi mikroskopis memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan konsep-konsep dalam pembelajaran kimia dengan menghubungkan fenomena makroskopik yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari." Mashami & Andayani (2014) juga menegaskan bahwa "representasi submikroskopis menjadi faktor kunci dalam pemahaman kimia oleh siswa. Ketidakmampuan dalam mempresentasikan aspek submikroskopis dapat menghambat kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan fenomena makroskopis dan representasi simbolik."
Kesimpulan
Berdasarkan dari kelas eksperimen dan kelas kontrol pada sub materi pereaksi pembatas serta dari analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa menggunakan media slot and ball berbantuan lembar kerja peserta didik terintegrasi lahan rawa dan nilai keislaman pada sub materi pereaksi pembatas.
Daftar Pustaka
- Hendrawani., Subandi., & Fajaroh, F. (2020). Kualitas Proses Pembelajaran Dan Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Ikatan Kimia Dengan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Representasi Mikroskopis. Jurnal Ilmiah IKIP Mataram (JIIM), 7(2), 262-272.
- Junaedi, I., (2019). Proses Pembelajaran Yang Efektif. JISAMAR (Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research), (3)2, 19-25.
- Kean, E. & Middlecamp, C. (1984). Panduan Kimia Dasar. Jakarta: PT Gramedia.
- Kustandi. C., & Sutjipto. B. (2011). Media Pembelajaran Manual dan Digital. Jakarta: Ghalia Indonesia.
- Moto, M. M. (2019). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Dalam Dunia Pendidikan. Indonesia Journal of Primary Education, 3(1), 20-28.
- Munirah. (2018). Prinsip-Prinsip Belajar Dan Pembelajaran (Perhatian Dan Motivasi, Keaktifan, Keterlibatan Langsung, Pengulangan, Tantangan, Dan Perbedaan Individu). AULADUNA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 5(1), 116-125.
- Ma'rifah, C., & Qohar, A. (2020). Keaktifan Siswa Pada Penerapan Penggunaan Media Pembelajaran Papan Rotasi (Partasi) Materi Transformasi Geometri. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual, 5(4), 698-709.
- Nurfadillah, S., Azhar, R. C., Aini, N. D., Apriansyah, F., Setiani, R. (2021). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD Negeri Pinang 1. Jurnal Pendidikan dan Sains, 3(1), 154-163.
- Polamolo, N. A., Lukman, A., Sukamto, K. (2022). Analisis Miskonsepsi Materi Pereaksi Pembatas Menggunakan Tes Three Tier Multiple Choice. Jambura Journal of Educational Chemistry, 4(1), 52-56.
- Putri, D. Y., Elvia, R., Amir, H. (2021). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ANDROID Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia, 5(2), 168-174.
- Prastowo, Andi. (2011). Panduan Kreatif dalam Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
- Sardiman, A. M. (2001). Interaksi dan Inovasi dalam Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
- Valentie, I., & Fatah, H. A. (2020). Hasil Belajar Konsep Pereaksi Pembatas Berbantuan LKS-Induktif Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Palangka Raya Tahun Pelajaran 2018/2019. Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang, 11(1), 235-243.
- Wahyudi, D., & Fitriani. (2021). ENTOKIMIA: Eksplorasi Potensi Kearifan Lokal Sasak Sebagai Sumber Belajar Kimia. Jurnal Pendidikan Kimia, 5(2), 102-111.
- Wahiddah, N. A. S., & Julia, J. (2022). Afirmasi Positif: Booster Untuk Meminimalisir Hambatan Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian dan Pendidikan, 15(2), 189-199.
- Yusuf, B., B. (2018). Konsep Dan Indikator Pembelajaran Efektif. Jurnal Kajian Pembelajaran dan Keilmuan, 1(2), 13-20.
Kasino
Olahraga
handicap-football-betting